SEJARAH BERDIRINYA SIJB

Lekat
Hari ini suatu kehormatan bagi SIJB dan terlebih-lebih bagi saya. Kami kedatangan Bapak Djujur S.H Hutagalung. Pencetus ide keberadaan SIJB. Pejuang ulung agar SIJB harus berdiri. Mungkin tanpa kehadiran beliau di KJRI Johor Bahru, gedung belajar bagi anak Indonesia itu tak pernah ada.
Beliau datang menggunakan van sekolah yang dikemudikan oleh pak Ichsan. Pak Djujur datang bersama istri tercinta. Beliau ke Johor Bahru untuk beberapa keperluan. Ke Johor Bahru tanpa berkunjung ke KJRI dan SIJB terasa ada yang kurang.
Sembari bernostalgia, beliau akhirnya bercerita panjang proses berdirinya SIJB. Saya pun berterima kasih pada pak Irman yang mau memancing beliau untuk bernapak tilas.
Pada tahun 2010 pak Djujur mendapat mandat dari Kemenlu untuk bertugas sebagai Fungsi Pensosbud (Penalaran sosial budaya) di KBRI Kuala Lumpur. Tapi akibat suatu dan lain hal beliau akhirnya tak jadi bertugas di sana. Melainkan harus ke KJRI Johor Bahru dengan posisi yang sama sebagai Pensosbud. Basically, Pak Djujur adalah akademisi. Beliau adalah seorang Dosen. Seluk beluk pendidikan telah mandarah daging di tubuhnya. Sebab itu perjuangan hidupnya tak pernah lepas dari dunia kependidikan. Prestasi hebat lainnya dari beliau adalah pernah menjabat menjadi kepala sekolah SIN (Sekolah Indonesia Netherland). Selain itu di Indonesia tak kalah cemerlangnya prestasi beliau. Sudah puluhan sekolah yang telah beliau bangun berkat usahanya melobi sana sini sehingga ada pihak-pihak yang tergerak merealisasikan mimpinya. Yogjakarta, Kabupaten Solok (Sumatra Barat), hingga ke Pulau Nias di Sumatra Utara. Semua dirintisnya.
Setelah menjabat menjadi Pensosbud di KJRI Johor Bahru beliau pun akhirnya menanamkan mimpi. Di Johor Bahru harus ada sekolah untuk anak-anak Indonesia yang kurang beruntung karena tak memiliki akses untuk bersekolah di sekolah lokal. Dalam kata lain anak-anak tersebut tak berdokumen dan merupakan anak-anak dari para imigran pekerja Indonesia di Johor Bahru. Sebagian besar mereka bekerja di sektor perladangan, kilang, manufaktur, atau sebagai pekerja rumah tangga.
Di tahun 2011 beliu turun rembuk ke Pimpinan (Dubes KL) untuk meminta ijin mendirikan suatu lembaga pendidikan untuk memfasilitasi anak-anak Indonesia dalam belajar. Namun terjadi penolakan. Ide tersebut dianggap gila dan mengada-ada.
“SIKL saja yang sekolahnya legal, itu bermasalah. Apa lagi kamu yang ingin mendirikan di Johor Bahru. Jangan buat yang macam-macam.” Dubes ketika itu menegaskan.
Tapi pak Djujur tak mengenal kata menyerah. Yang ingin dikerjakannya bukanlah suatu hal yang melanggar hukum. Beliau akhirnya meneruskan apa yang telah menjadi niatnya tersebut. Beliau melakukan ini bukan untuk mencari nama. Beliau hanya menjalankan amanah yang telah Kemenlu berikan pada beliau. Buatlah pembaharuan di Johor Bahru.
Pada 2012, akhirnya Konjen Johor Bahru yang saat itu menjabat akhirnya memberi kesempatan kepada pak Djujur untuk merealisasikan berdirinya sebuah komunitas belajar. Ketika itu Pensosbud (dalam hal ini adalah area kerja pak Djujur) hanya memperoleh dana sebesar 240 juta. Sangat minim. Mau tidak mau karena sudah bertekad besar akhirnya beliau pun memakai anggaran pribadinya untuk membangun komunitas belajar di Johor Bahru sebagai penambal anggaran yang minim tersebut.
2013, tekad itu semakin besar. Pak Djujur pun berangkat ke Jakarta untuk menghadap ke Kemenlu untuk memohon dana bantuan tambahan agar sekolah bisa berdiri dengan segera. Tapi tak semudah terbayangkan. Pihak Kemenlu menolak. Sebab anggaran untuk ke sana tak ada. Tak menyerah sampai di situ, pak Djujur mengalihkan lobinya ke Kemendikbud. Departemen yang lebih powerful untuk urusan pendidikan.
Di suatu waktu pak Djujur bertemu dengan Bapak Moh.Nuh (Mendikbud saat itu) untuk meminta ijin pendirian sekolah di Johor Bahru. Tanpa rembuk yang panjang pada akhirnya bapak Moh.Nuh mengabulkan permintaan pak Djujur membangun sebuah sekolah di Johor Bahru. Tapi dengan syarat SIJB tidak berdiri sendiri tapi harus menginduk ke SIKL. Pun SIJB tak boleh memakai nama SIJB sebagai penamaan resmi sebab statusnya hanya sebagai pusat komunitas belajar yang dikenal sebagai ICC (Indonesia Community Center). Tapi aktifitas yang berjalan di dalamnya tetap nuansa sekolah. Tak masalah bagi pak Djujur. Terpenting adalah anak-anak Indonesia bisa terfasilitasi dalam belajar.
Namun pada saat itu Pak Moh.Nuh tak bisa mengambil keputusan secara sepihak. Beliau pun harus seiya sekata dengan Dirjen terkait dan Wamendikbud.
“Jika pak Wamen setuju maka sekolah di Johor Bahru bisa kita bangun.” Kata Pak Moh.Nuh ketika itu.
Tak membuang tempo pak Djujur segera menuju ke Kantor Wamendikbud. Tapi ternyata beliau tak ada di tempat. Ia sudah ada di bandara. 2 jam lagi pesawat beliau akan take off. Orang-orang yang bersama pak Djujur ketika itu menyarankan untuk mengejar pak Wamen ke bandara. Ini persoalan besar harus segera diputuskan. Beliau pun menuju ke bandara Soekarno-Hatta.
Pak Djujur pun berhasil menemui pak Wamen. Beliau menjelaskan maksud kedatangannya menemui pak Wamen di last minute seperti itu. “Pak Djujur saya salut. Sebelum pak Djujur purna tugas di Johor Bahru, inshaa Allah sekolah itu sudah berdiri.” Bonus lain yang didapatkan oleh pak Djujur dari lobi membahagiakan itu adalah pendirian PAUD. Bisa dikatakan the power of teman bekerja baik di sini. Kebetulan Dirjen PAUD ketika itu adalah kawan baik dari pak Djujur.
Peresmian PAUD Cahaya (Nama PAUD JB) dilaksanakan pada tanggal 1 Oktober 2013. Diresmikan oleh Ibu Anisa selaku ketua DWP (Dharma Wanita Persatuan) dan Bapak Taufiqur Rija (Konjen RI Johor Bahru saat itu). Sementara sekolah untuk tingkat SD dan SMP di resmikan pada tanggal 5 Januari 2014 dengan nama awal SIT (Sekolah Indonesia Terbuka) oleh Prof. Rusdi (Atdikbud Kuala Lumpur periode 2011-2014), Bapak Taufiqur Rijal, Bapak Djujur S.H Hutagalung.Kemudian berubah menjadi SIJB pada tanggal 5 Januari 2015 yang diresmikan langsung oleh Prof. Ari Purbayanto (Atdikbud Kuala Lumpur periode Desember 2014 – hingga saat ini). Perubahan nama ini merujuk kepada aturan yang telah dibuat oleh Kemenlu, bahwa setiap sekolah Indonesia yang berada di luar negeri harus bernama dengan basis letak kota di mana sekolah itu didirikan.
Segelumit perjalanan yang terjal mewarnai peta perjalanan SIJB hingga bisa menjadi seperti sekarang. Orang-orang yang terdahulu menentang atau bahkan pesimis akan hal ide gila pak Djujur ini, sekarang bisa kembali bersatu frekuensi mendukung eksistensi SIJB dalam pemenuhan hak-hak anak bangsa dalam mendapatkan fasilitas pendidikan.
20170313_150110.jpg

Pak Djujur (kemeja Pink)

20170313_150730.jpg

Pak Irman memberikan penjelasan perkembangan sekolah

WELEM

Lekat

2013, ketika itu saya masih bertugas sebagai Guru SM-3T di salah satu sekolah yang terletak  di kabupaten Raja Ampat. Setahun. Terbilang singkat  untuk memahami dinamika pendidikan di daerah pelosok secara utuh. Tapi bukan berarti sensasi pengabdian tak saya dapatkan. Di sana saya menemukan berupa-rupa pelajaran hidup.

***
Saat itu saya bertemu dengan sosok siswa bernama Welem. Tubuhnya kecil. Mengingatkan saya pada Daus Mini. Kulitnya hitam khas orang-orang Papua. Rambutnya keriting.
Jika ingatan saya masih tepat. Ia tak pernah absen setiap kali saya masuk mengajar di kelasnya. Kala itu ia duduk di kelas VII SMP. Saat ini, jika terus bersekolah, ia sudah SMA.
Dia duduk di bangku paling depan. Tepat di hadapan meja Guru.

20130923_075610.jpg

Welem dengan senyum manisnya

Di dalam kelas ia tak banyak bicara. Ia selalu turut pada instruksi yang keluar dari mulut saya. Ia tak pintar. Bicara konteks intelektual siswa-siswa di pedalaman Papua memang memprihatinkan. Sebab pengajaran bukan di mulai ketika bel masuk berbunyi. Tapi saat menyadarkan mereka untuk mau datang ke sekolah. Di beberapa kasus -saya belum pernah mengalaminya- teman-teman saya yang mengabdi di lokasi lain mesti menjemput siswa door to door agar mau datang ke sekolah. Menurut saya, siswa yang pintar di antara mereka adalah yang mampu membaca dengan baik dan benar. Disertai kemampuan menulis yang baik pula. Bukan mereka yang kritis di dalam kelas atau mereka yang mampu menjawab setiap pertanyaan yang disajikan. Saya menemukan masih banyak yang belum bisa keduanya. Termasuk mereka yang duduk di bangku SMA.

***

Kembali ke Welem.
Kami tak banyak berinteraksi. Alasannya itu tadi. Ia cenderung pendiam. Bersama teman-temannya pun ia terlihat berperilaku sama.
Suatu istrahat sekolah, saya yang masih memeriksa tugas-tugas siswa memperhatikan Welem yang memilih duduk di bangkunya. Sepertinya jam istrahat bukan sesuatu yg spesial baginya.
“Ko tra keluar?” Tanya saya memecah diamnya.
“Tra ada pak Guru. Tong di dalam kelas saja.” Sambil ia menggeleng beberapa kali.
Kami berdua diam.
Saya belum puas. Ini momen langkah. Jarang saya berinteraksi dengannya. Sebab di dalam kelas setiap ajuan pertanyaan saya selalu direspon olehnya dengan sikap diam.
“Sudah makan?”
Ia menggeleng lagi.
Pertanyaan yang masih membuatnya hemat kata.
“Kau suka sekolah?” Seketika kepalanya terangkat.
“Suka pak Guru.” Ia mulai terpancing.
“Kenapa?”
“Karena saya mau jadi anggota DPR.” Suaranya begitu semangat. Saya mulai tertarik.
“Kau tau apa itu anggota DPR?”
“Tau pak Guru.”
“Apa?”
“Dorang yang biasa datang bagi-bagi beras, sabun, indomie, dan baju.”
“Untuk apa?”
“Sa pu mace bilang supaya dorang ditusuk saat pemilu.”
“Jadi kau mau seperti dia?”
Welem hanya mengangguk.
“Kau tak mau jadi polisi atau guru kah?”
“Tak mau pak Guru. Anggota DPR saja.”
****
Sampai di sini saya paham. Siswa sebenarnya butuh seorang figure inspiratif yang mampu memicu sumbu keinginan mereka untuk menjadi seseorang yang berguna di masa depan. Mudah bagi siswa yang bersekolah di kota-kota besar untuk mengakses informasi. Manakah tokoh yang bisa mereka idolakan dan bisa mereka jadikan sebagai sosok panutan.
Sementara di daerah pelosok yang listrik saja adalah suatu barang mewah dan internet masih menjadi benda asing yang berada jauh di luar nalar mereka. Di luar sana semua telah termodernisasi. Sementara mereka masih hidup di era usaha memanusiakan manusia.
Welem salah satu contoh manusia pelosok yang secara tidak langsung meminta diperlakukan sebagai manusia utuh. Meminta agar diberikan hak mengenyam pendidikan.

***

Janganlah cuma menjadi orang yang sukses, tapi jadilah manusia yang mempunyai nilai.  -Anis Baswedan-

20130924_064815

Bayangkan jika mereka tak memiliki Guru. Bangsa ini akan kehilangan banyak calon penerus

HAL-HAL YANG PERLU KAMU TAHU DARI SILN

Standar

Saya sering di perhadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupan seorang pelakon SILN. Pola kerjanya bagaimana? Biaya hidup mahal gak? Apa tantangannya sama seperti ketika ber-SM3T? Kok gajinya besar ya? Dan bla bla bla dan sebagainya dan sebagainya.

Kehidupan seorang SILN tak senyaman dan semenyenangkan dari gambar-gambar yang telah ia/mereka unduh ke dalam rupa-rupa media sosial, setidaknya itu menurut saya. Ada segudang pekerjaan yang sangat menguras tenaga, pikiran dan emosi yang tak ia/mereka bagikan. Ia/mereka nikmati semuanya sendiri. Bukankah yang patut dirayakan bersama itu kebahagiaan? Kesedihan dan keluhan biar menjadi urusan bilik masing-masing. Foto-foto di spot-spot yang sangat instagramable hanyalah bonus lain dari pengabdian dan sebagai upaya mereduksi rasa jenuh dalam bekerja.

Karena ini opini, maka perspektif rangkuman yang saya ambil pada paragraf-paragraf berikutnya berputar pada 90% hal yang saya hadapi dan 10% sisanya dari kehidupan teman-teman lainnya yang juga termasuk dalam lingkaran SILN.

Pola kerjanya bagaimana?

Mengajar, tentu saja, adalah tugas pokok yang wajib kami jalani. Bisa dikatakan mengajar anak-anak Indonesia di Malaysia termasuk pengajaran darurat. Lain kali mungkin saya akan menuliskan kenapa harus ada sekolah Indonesia di Malaysia. Di tempat saya mengajar (SIJB) pola pengajaran yang diterapkan tak jauh berbeda dari apa yang berjalan di sekolah-sekolah di Indonesia. Jika ada perbedaan mungkin terletak di waktu mengajar. Sebagai gambaran, di SIJB jam belajar dimulai pada pukul 08.45 hingga 14.45. Ini berlaku untuk semua jenjang (SD-SMP), termasuk kelas I dan II SD. Hal ini menjadi evaluasi prioritas kami. Terdengar tak masuk akal memang jika harus memaksakan kelas bawah untuk belajar selama 6 jam sehari. SIJB pun telah menganut Kurikulum 2013.

Di luar jam mengajar akan ada tugas tambahan. Beragam tugas yang diberikan. Pemberian tanggung jawab ini dilihat dari potensi dari individu bersangkutan. Saya misalnya mendapatkan tanggung jawab sebagai pengelola Humas sekolah dan tugas cabang lainnya sebagai Pembina Osis, serta menjadi tukang dokumentasi dadakan di beberapa kegiatan. Tugas yang di emban setiap personal tidak mutlak sama pada setiap sekolah. Semua berdasarkan kebutuhan saja.

Tantangannya gimana?

Jika komparasinya adalah pengabdian SM-3T maka bisa dikatakan sangat jauh berbeda. SILN dan SM-3T, bagi saya, adalah dua hal yang serupa mata koin; saling memunggungi. Ada faktor-faktor mencolok yang membuat SILN dan SM-3T berbeda.

Menemukan anak-anak yang buta aksara adalah sebuah kewajaran. SILN dan SM-3T akan mudah mempertemukan kita pada anak-anak tersebut. Namun jika menilik dari takaran jumlah, gap yang timbul akan sangat jauh. Di SIJB, kuantitas murid-murid yang tak bisa membaca didominasi pada kelas rendah (I dan II). Pun jika ada pada kelas tinggi hanya ada 1 atau 2 orang saja. Ketika saya ber-SM3T di Papua, saya bisa menemukan 40% dari murid-murid yang pernah saya ajar tak bisa membaca. Itu pada rentan usia SD hingga SMA.

Sarana dan prasarana menjadi faktor mujarab lain yang membuat sekolah (SILN) bisa beraktifitas maksimal. Buku ajar, LCD proyektor, peralatan olahraga, layanan kendaraan antar jemput, hingga ruang belajar yang memadai membuat proses transfer ilmu tak mengalami kesulitan berarti. Jika ada kesulitan, itu hanya terletak pada SDM Guru yang tak seimbang dengan jumlah murid. Sehingga satu guru bisa berperan double hingga triple fungsi sekaligus dalam mengampuh mata pelajaran. Pun ketidaksesuaian latar belakang pendidikan dengan mata pelajaran yang diajarkan. Masalah klasik ini pun berlaku di SM-3T.

Urusan sandang, papan, dan pangan sangat manusiawi. Fasilitas yang saya butuhkan terpenuhi dengan proses yang cepat.

SM-3T? Jika mentalmu tak kuat, jangan sesekali untuk mendaftar.

Sejauh ini tantangan tersulit yang saya hadapi dalam lingkar SILN adalah melawan diri sendiri. Rasa malas, pekerjaan yang membutuhkan konsistensi dan kosentrasi tinggi, beberapa kali menunda pekerjaan karena berpikir waktunya masih agak panjang adalah hal-hal yang menjadi musuh besar saya. 4 bulan awal saya mencoba beradaptasi dengan menghilangkan itu semua. Mencoba bertransisi dari kebiasaan jelek saya itu menjadi lebih menghargai waktu dan kesempatan. Saya bersyukur bisa menjadi manusia lebih baik dan produktif selama 8 bulan ber-SILN. Satu hal lain adalah menyingkirkan ego. SILN adalah bentuk kerja tim, bukan dominasi individu-individu. Bukan pula kompetisi untuk menonjol sendirian. Ingat, kerja sama tim.

Katanya, penghasilannya besar ya?

Ini yang perlu dibaca, diingat dan dicatat jika perlu. Sebab seseorang selalu melibatkan angka-angka mata uang dalam mendedikasikan tenaga, pikiran dan waktunya untuk mengabdi pada bangsa. Sehingga nilai-nilai keikhlasan tidak tersisa sama sekali.

Ada yang menyebut penghasilan seorang SILN itu besar. Ada juga yang beranggapan tak masuk di akal untuk menggaji seorang guru dengan nominal seperti itu. Tapi bagi saya, ia tak besar atau fantastis tapi ia lebih dari cukup. Penghasilan berbanding lurus dengan jiwa raga totalitas pengabdian. Percuma dong gaji besar kalau mengabdinya setengah-setengah. Apa lagi mata uang yang berbeda. Sehingga perlu ada penyesuaian dengan keadaan.

Pendapatan yang lebih dari cukup itu adalah buah kerja keras yang rekan-rekan SILN dapatkan setelah berproses panjang dan sedikit factor luck bermain di dalamnya. Bukankah kerja keras selalu berjodoh dengan kenyamanan di akhir perjuangan. Ini tidak berlaku bagi mereka yang berhasil hanya dalam lingkup fantasi khayalan. Seperti kata Bapak Jokowi “Kerja, Kerja, Kerja”. Belum lagi hambatan dan hal-hal yang tak terduga mesti dihadapi saat mengabdi. Don’t count all things by numbers.

Pemerintah selalu mencipta terobosan-terobosan baru untuk meratakan pendidikan bagi anak-anak Indonesia. Baik itu di dalam wilayah NKRI atau di luar negeri. Seperti dalam salah satu agenda Nawacita yang dideklarasikan dalam kepemimpinan Jokowi-JK:

Melakukan revolusi karakter bangsa melalui kebijakan penataan kembali kurikulum pendidikan nasional dengan mengedepankan aspek pendidikan kewarganegaraan, yang menempatkan secara proporsional aspek pendidikan, seperti pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme dan cinta Tanah Air, semangat bela negara dan budi pekerti di dalam kurikulum pendidikan Indonesia.

Semua anak bangsa harus berperan aktif dalam memajukan Indonesia. Dari sektor manapun kita melakukannya.

 

20161127_092422.jpg

SILN SIJB

 

WhatsApp Image 2017-06-07 at 09.38.17ppp.jpeg

ADA MASA DEPAN BANGSA KITA DI TANGAN MEREKA

Standar

Masa depan sebuah bangsa ada di tangan para penerus bangsa itu sendiri. Bangsa yang terdidik diharapkan akan menjadikan keadaan yang lebih baik di kemudian hari.  Oleh karena itu, pendidikan bagi anak-anak yang merupakan generasi penerus bangsa, tidak boleh terputus walau di manapun mereka berada.

Memulai perjalanan Sekolah Indonesia Terbuka (SIT) di awal tahun 2014, saya bertugas mengajar murid kelas I yang berjumlah empat orang dan kelas II yang berjumlah dua orang. Beberapa bulan kemudian bertambah kembali murid yang belum mencukupi umurnya untuk menjadi murid kelas I. Lalu, pada akhirnya kebijakan dari pimpinan sekolah saat itu dibentuklah kelas prasekolah dengan murid yang semula dua orang saja sampai akhirnya berjumlah 12 orang. Pada saat yang bersamaan saya harus mengajar satu ruangan dengan tiga kelas yang berbeda; pra sekolah, kelas satu, dan kelas dua.

Mudah? Tentu tidak. Apalagi bagi saya yang saat itu tidak ada pengalaman mengajar di SD, kelas kecil pula. Tapi inilah tantangan. Hal baru yang akan memberikan pengajaran baru. Kondisi tersebut menjadikan saya banyak belajar dari murid-murid. Setiap hari muncul permasalahan, setiap hari pula kami harus berpikir untuk solusinya. Sebagai contoh, ada murid yang hanya diam tanpa kata di dalam kelas, apabila diminta maju ke depan atau mengerjakan satu kegiatan, dia akan menangis. Tetapi dia rajin menulis, hanya saja sangat sensitif dan misterius bagi saya.  Hal ini berlangsung setiap hari. Sampai pada suatu ketika, saya menggunakan taktik dengan cara tidak menegur dia selama di kelas. Tidak sampai waktu istirahat, anak itu menghampiri dan menyapa saya sambil berkata, “ Cikgu, saya mau tulis!” Itulah kali pertama dia menegur saya dan menyampaikan keinginannya. Kesukaannya adalah menggambar. Kemampuan motorik tangannya sudah begitu cepat sehingga ketika yang lain masih harus menulis maka dia selalu selesai lebih dulu dan selanjutnya akan memenuhi bukunya dengan gambar-gambar hasil imajinasinya. Satu semester berlalu, Lysia -nama murid tersebut- sudah tidak lagi jadi gadis kecil pendiam, dia tetap tidak banyak bicara, tapi sorot matanya menampakkan keceriaan. Sampai pada suatu hari, dia menangis ketika mau naik kendaraan jemputan sekolah. Dibujuk dengan cara apapun tetap tidak mau pulang, tetapi dia tidak bicara apa penyebabnya. Sampai akhirnya kami tidak lagi memaksanya untuk pulang bersama van antar jemput sekolah. Pada saat ayahnya dihubungi melalui telepon, barulah ayahnya menyampaikan alasan kenapa Lysia tidak mau pulang, karena tidak ada ibu dan adik-adiknya di rumah. Alasannya sederhana, tapi dia tetaplah jadi gadis kecil yang kadang-kadang misterius. Beberapa bulan kemudian, dia pindah ke Indonesia karena ayah dan ibunya tidak lagi bekerja di Malaysia.  Lysia pun melanjutkan sekolah di sana.

Belajar dari Lysia, saya berusaha menjadi lebih peka terhadap berbagai karakter murid yang saya hadapi. Memahami mereka lebih dalam dengan pendekatan yang berbeda dengan anak remaja. Masih harus diperhatikan secara intensif dan detail sedangkan pada waktu yang bersamaan target pengajaran pun perlu dicapai. Mulailah bermunculan ide-ide kecil yang berefek besar bagi perubahan sikap mereka.

Pada kesempatan lain, saya dipertemukan dengan seorang anak berumur 11 tahun yang nyaris dipulangkan oleh orang tuanya karena pada umur tersebut masih belum beroleh pendidikan. Putra namanya. Kesehariannya  selepas tamat dari taman kanak-kanak/ tadika (TK) adalah membantu guru-guru tadikanya mengajar anak-anak kecil belajar baca dan tulis. Kegiatan  ini merupakan inisiatif orang tuanya agar Putra memiliki kegiatan sekalipun tidak dapat bersekolah. Singkat cerita, Putra pun dapat bersekolah di SIJB.

Keinginan kuat Putra untuk sekolah menjadikannya murid yang sangat bersemangat . Pelajaran demi pelajaran dia ikuti dengan baik, saat itu kami tempatkan dia di kelas 3 karena usianya sudah 11 tahun akan tetapi belum pernah bersekolah secara formal.  Sebelum melalui ujian paket A maka kami bermaksud memberikan pembekalan dia dari hal-hal dasar tentang materi SD. Akan tetapi, di luar dugaan, kemajuannya luar biasa. Putra mampu mengejar ketertinggalan materi dengan cepat, sehingga dilakukan uji coba materi kelas 3 dan kelas 4, dia pun bisa melaluinya. Akhirnya diputuskan, bahwa dia mampu menjadi murid regular dengan matrikulasi beberapa semester. Atas kehendak Tuhan, dia dapat mengikuti ujian nasional tahun 2017 ini.

Melihat semangat Putra, kita yakin banyak anak Indonesia di tanah rantau ini yang memiliki semangat belajar yang sama seperti Putra. Keinginan kuat untuk sekolah, hanya saja terkendala sistem yang diterapkan pemerintah setempat. Masih banyak anak yang merindukan suasana riuhnya sekolah. Melalui sekolah Indonesia bagi anak-anak WNI inilah, kebutuhan mereka akan pendidikan mampu terakomodasi.

Bersama SIJB yang baru merintis jalan untuk kemajuan anak-anak WNI di Johor Bahru dan sekitarnya, kita tanam sejuta harap. Harapan akan keadaan yang lebih baik bagi bangsa kita di masa yang akan datang. Semoga anak-anak ini kelak akan kembali pulang ke kampung halamannya untuk membangun negerinya di atas kebanggaan sebagai anak bangsa.

Neli Syaripah

Johor Bahru, 27 Mei 2017

 

20170207_090517.jpg

BAPAK SAYA BUKAN TKI

Standar

“Bapak saya bukan TKI, pak guru.”

Saya menerima sanggahan itu sekitar 35 jam yang lalu saat mengajar di kelas.

Saya selalu menyelipkan wawasan kebangsaan pada anak didik saya setiap kali saya mengajar. Mau itu pelajaran IPA, IPS, Olahraga atau tidak belajar sekalipun. Akan selalu ada hal tentang Indonesia yang saya paparkan. Ini untuk menstimulasi mereka bahwa apa pun kebanggaan mereka terhadap tanah Melayu, tetap saja darah mereka mengalir Indonesia meski saat ini sudah tidak murni lagi, karena sudah bercampur budaya lokal tempat mereka bermukim.

Kebetulan kemarin saya menjelaskan tentang jumlah negara yang penduduknya terpadat di dunia. Tiongkok (1.383.180.000), India (1.306.480.000), Amerika Serikat (325.914.000), dan Indonesia (255,461,700).

Dengan jumlah sebanyak itu maka tidak heran jika dengan mudah kita bisa menemukan keturunan Cina, India, dan Indonesia ada di mana-mana. Khusus Amerika Serikat agak sulit membedakan mana mereka yang berasal dari Amerika Serikat itu sendiri atau dari Eropa (Inggris, Perancis, Belanda, Jerman dan beberapa negara lainnya). Secara fisik mereka kelihatan sama.

Nah, kemudian khusus peringkat pertama, Cina, saya menjelaskan keturunan mereka banyak tersebar di Indonesia. Apa lagi beberapa tahun terakhir ini mereka banyak melakukan investasi di berbagai sektor. Pun saya menerangkan jika orang-orang Tionghoa lebih senang beroperasi di bidang ekonomi daripada harus menjadi pegawai pemerintahan atau di sektor militer. Orientasi pendapatan yang menjanjikan dan lebih besar nampak menjadi magnet kuat bagi mereka untuk bersaing di ruang ekonomi. Saya pun menjabarkan contoh-contoh yang sering mereka temukan di Johor Bahru. Indonesia, Cina, dan India dengan mudah kita temui di jalan-jalan, tempat perbelanjaan modern, pasar tradisional, atau terminal.

Saat masuk ke bagian penduduk Indonesia, saya menjurus ke masalah lapangan kerja yang tidak bisa secara maksimal disediakan oleh pemerintah Indonesia. Itu sebabnya banyak orang Indonesia memilih merantau ke luar negeri dan menguji peruntungan di sana. Sukses atau tidaknya itu persoalan belakang. Bukankah nasib itu pertanyaan? Tak ada jawaban jika tak mencari jawaban.

“Semua orang Indonesia yang bekerja di Malaysia adalah TKI (tenaga kerja Indonesia).” Saya kemudian mempersempit perspektif.

“Tidak pak guru, orangtua saya bukan TKI. Mereka dosen.” Seorang murid perempuan mematahkan argumen saya.

“Tidak. Dosen itu TKI. Tenaga Kerja Indonesia. Tujuan mereka datang ke Malaysia kan untuk bekerja. Seandainya asal mereka dari Cina, mereka disebut TKC. Tenaga Kerja Cina.” Saya mencoba memberikan pengertian lain dari apa yang selama ini dipahaminya tentang TKI.

“Tapi mereka kan tidak bekerja di ladang atau kontrek. Mereka dosen di UTM.”

“Iya, saya tahu. Jangan beranggapan jika yang menjadi TKI hanya mereka yang bekerja di ladang sawit, kilang, asisten rumah tangga, atau yang di kedai. Tidak bisa begitu. Bapak seorang Guru. Saya mengajar kalian. Berarti saya bekerja. Jadi saya juga termasuk TKI. Pak Konjen juga TKI. Ibu Dewi, kepala sekolah, TKI. Pak Irman, guru seperti saya, juga TKI. Semua yang datang dari Indonesia dengan tujuan untuk bekerja adalah TKI. Pembedanya ada pada persoalan status legal dan illegal. Resmi atau tidak resmi. Dokumen dan tidak berdokumen. ” Matanya terus melihat saya. Telinga tetap di pasang dengan saksama agar tak ada kalimat yang terlewat.

“Kalian di sini bersekolah. Berarti kalian bukan TKI. Tapi anak dari orangtua TKI. Mahasiswa UTM bukan TKI. Mereka student. Kecuali mereka juga bekerja, berarti mereka bisa dikatakan TKI.” Saya menambahkan.

“Bapak saya TKI.” Suara dari bangku lain.

“Ibu saya juga TKI, pak.” Yang lain ikut mengambil peran.

“Bapak, Ibu dan Abang saya juga TKI.”

Seusia SD seperti mereka perlu pengawasan yang rutin. Mereka tak bisa memilah dengan baik setiap informasi yang masuk. Semua ditelan mentah-mentah. Itu sebabnya saya dan guru lain tak hanya melakukan proses transfer ilmu yang menjadi tuntutan kurikulum, tapi kami menggiring persepektif mereka ke ranah wawasan kebangsaan. Secara eksplisit memang kurikulum mengikutkan pelajaran kebangsaan. Pelajaran PKn telah mewakilinya, tapi tidak secara keseluruhan. Ada hal-hal yang tidak terjelaskan secara rinci bagaimana Indonesia itu sebenarnya. Sebab tujuan utama kurikulum Indonesia diciptakan ya untuk anak-anak Indonesia yang bersekolah di Indonesia. Sementara kasus seperti murid-murid kami di SIJB adalah persoalan yang tidak masuk timbang ukur penerapan. Maka dari itu kami secara sadar perlu melakukan manuver-manuver pemberian wawasan kebangsaan yang wajib murid-murid ketahui.

Kami takut kelak para murid akan salah arah dan lebih memilih mendukung Malaysia di Piala AFF daripada timnas Indonesia.

20170207_090245.jpg

SIJB

PRAMUKA MENJADI LAHAN KAMI BERTUMBUH

Standar

Telah diresmikan Gugus Depan (Gudep) Sekolah Indonesia Johor Bahru oleh Wakil Kwartir Nasional (Kwarnas) Bidang Bina Muda Kak Prof. DR. S. Budi Prayitno. Suatu peristiwa idaman semenjak SIJB berdiri sebagai penyedia layanan Pendidikan. SIJB sebagai sekolah rintisan memang telah tertinggal jauh dari dua saudara tuanya yang telah eksis lebih dulu, Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL) dan Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK). Namun bukan berarti SIJB menjadi kerdil dan merasa tak harus berbuat apa-apa untuk tumbuh besar dan bisa melahirkan prestasi.

Pramuka adalah jalan lain untuk membentuk prestasi. Kami tidak menghidupkan tapi melahirkan. Mungkin di luar sana, ada beragam anggapan SIJB hanyalah anak bawang yang sering tak dianggap. Keberadaannya hanyalah pelengkap. Sehingga perlu ada gebrakan yang membuat situasi berubah arah. Perlu adanya pemicu agar lirikan sedikit bisa bergeser kea rah kami. Sebab itu, kami dengan tekun berkolaborasi menginisiasi sesuatu yang baru agar SIJB bisa memberikan sesuatu yang baru.

Setelah peresmian Gudep SIJB, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan KMD (Kursus Mahir Dasar) bagi guru-guru SIJB. KMD menjadi sesuatu yang wajib jika menginginkan Gudep SIJB menjadi maju dan diisi oleh anggota pramuka yang handal. Sebab itu perlunya ada pelatihan sebagai asa menuju harapan kami bersama.

Hal yang paling seru perlu kami lakukan adalah mewujudkan semangat kami dalam bentuk kerja nyata. Lalu mencita-citakan lagi hal lainnya; melahirkan anak didik yang berkualitas.

Kami hanya perlu membuktikan dengan tindakan, bukan hanya ide-ide cemerlang di atas kertas, lalu hilang begitu saja tanpa adanya bentuk gerakan.

DSCN9329.JPG

Kak Agus, Pelatih dan sekaligus Kepala Sekolah SIKL

DSCN9324.JPG

Ibu-Ibu yang mengorbankan waktu dengan tak bersama keluarga dan memilih untuk aktif di KMD

Kwarnas-Gerakan-Pramuka-Resmikan-Gudep-di-KJRI-Johor-Bahru-Malaysia-02.jpg

Pak Konjen KJRI menandatangani SK Peresmian

DSCN9292.JPG

Letih? Iya. Tapi bukan berarti kami kehilangan semangat

SIJB FAMILY GATHERING

Standar

“Mungkin ada baiknya kita sesekali keluar jalan. Kemana gitu. Mungkin pantai atau apalah. Yang jelas kita ngumpul bareng. Masing-masing bawa anak istri atau suaminya. Pokoknya dibuat seru deh.”

Sekitar 2 bulan argumen itu muncul langsung dari mulut Ibu Dewi Lestari. Sesuatu yang disambut hangat. Kemudian disusunlah rencana-rencana itu secara matang.

***

Tugas telah dibagi rata. Tempat untuk menikmati 2 hari libur telah ditentukan. Sebuah lokasi berjarak 2 jam perjalanan menggunakan mobil ke arah timur keluar dari kota Johor Bahru. Pantai Air Papan di kota Mersing.

Sejatinya kota Johor Bahru adalah tempat berkembangnya kolonial kapitalisme era modern. Berjarak 15 menit dari Singapura dan sebagai pemisah di bangunlah sebuah beton jembatan sebagai alternatif mudah untuk warganya saling berkunjung. Bagi saya berlibur secara kolektif di dalam kota Johor Bahru adalah sesuatu yang sia-sia. Sebab yang tersedia hanya modernitas membosankan. Pusat-pusat perbelanjaan sudah terlalu membosankan untuk dikunjungi.

Alam, entah gunung atau pantai, adalah alat pemersatu kebersamaan. Suasana alam sungguh medan magnet untuk mencairkan suasana. Keluarga SIJB, mungkin untuk pertama kalinya semenjak ia berdiri, melakukan gathering di suatu tempat dengan harapan timbullah keakraban yang semakin menghangatkan suasana kerja di sekolah.

Pagi dengan waktu yang telah disepakati untuk berkumpul lalu berangkat ke lokasi tujuan akhirnya menjadi sebuah ambigu. Tepat waktu dan tidak tepat waktu seakan sama. Memilih tepat atau tidak sama saja. Namun memilih yang kedua sering membuat geram bagi mereka yang memilih tepat waktu. Sudahlah, alasan akan selalu berterima dengan lapang.

Pada akhirnya mobil yang berjumlah 5 biji dan mengangkut 35 orang berangkat. Sejenak meninggalkan kebisingan riuh kota Johor Bahru. Liburan adalah pelarian paling khusyuk dari rutinitas pekerjaan yang sering kali menjengkelkan.

Sepanjang perjalanan menuju area pantai, selepas melewati kota Mersing, suasana kanan dan kiri mengingatkan saya perjalanan menuju Pantai Bira di Sulawesi Selatan sana. Pohon kelapa, rumah penduduk yang sederhana, dan banyaknya kebun-kebun warga membuat saya sejenak teringat kampung halaman.

Tiba di Pantai Air Papan sekitar pukul 12 siang. Tikar digelar di tepi pantai yang banyak ditumbuhi pepohonan. Anak-anak yang jarang menemukan pantai di kehidupannya di kota Johor Bahru langsung terjebak dalam kegembiraan khas mereka. Kerang-kerang yang bertebaran di atas pasir atau yang tenggelam di dalam pasir dikumpulkan. Mereka saling komentar yang memantik tawa orang dewasa.

Sesuai kesepakatan kami boleh check in di penginapan saat jam 2. Jadi sebelum menuju ke sana kami makan siang dengan bekal yang kami bawa. Angin berhembus sedang. Terik matahari semakin beringas. Tapi hal itu tak menyurutkan kami untuk menikmati segala yang ada.

Sore saat langit sedang asyik untuk dicumbu. Semua berkumpul lagi di tepi laut. Kini jarak dengan air laut hanya beberapa langkah saja. Kegiatan dimulai dengan permainan jalan melewati rintangan dengan mata tertutup secara berpasangan dan memunggungi balon yang berisi air. Setelah semua tertawa puas karena keseriusan permainan yang diharapkan seketika berubah menjadi bercandaan yang super ampuh mencairkan suasana. Selanjutnya dilanjutkan dengan menceburkan diri di laut.

Malam hari suasana jauh lebih santai dan bersifat intim. Kedekatan dibuat secair mungkin. Ikan dan ayam sudah siap untuk dipanggang. Anak-anak masih menjadi pusat keributan. Dunia anak terkadang lucu dan kompleks. Saya rasa orang dewasa yang pernah menjadi anak kecil sekalipun tak bisa lagi memahami dunia anak saat tubuh mereka telah tumbuh dan jiwa mereka semakin didominasi oleh ego.

Makan, bernyanyi, bercanda, saling tukar lelucan dan berakhir dengan saling tukar kado adalah rentetan yang sebenarnya terlihat sederhana di mata awam. Tapi bagi kami itu tak ternilai oleh apapun. Sejatinya keluarga tak mesti lahir dari satu rangkaian Rahim. Tapi keluarga adalah pertemuan satu sama lain dan melahirkan kebersamaan.

Hari kedua kami hanya menghabiskan waktu setengah hari saja untuk menikmati laut dan sedikit berbelanja oleh-oleh khas Pantai Air Papan. Pukul 12 siang kami meninggalkan pantai dengan suasana hati yang riang gembira. Tapi tidak dengan badan yang remuk redam dan butuh istrahat.

IMG_5399.JPG

Boys before flower

IMG_5347.JPG

Anga & Abi

YDXJ0472.JPG

We are SIJB

ICC PAHANG

Standar

Menginspirasilah di manapun kamu berada.

Menginspirasi menjadi landasan utama saya ketika memutuskan untuk menjadi seorang pendidik. Guru biasa hanya pandai mengajar. Guru luar biasa terhenti di batas mendidik. Guru hebat berada pada tataran tertinggi. Ia mampu menginspirasi. Siswa yang memahami sekolah adalah proses datang, duduk, dengar, catat, lalu pulang seketika dapat berubah menjadi lebih bergairah ketika tubuh dan pikirannya telah terasuki virus inspirasi.

***

SIJB saat ini memiliki kelas jarak jauh yang baru. Setelah satu semester berjalan dengan ICC Muar. Kini terbentuk ICC Pahang yang baru dibuka sekitar satu bulan yang lalu. Tak seperti ICC Muar yang hanya berjarak 2 jam perjalanan dari Johor Bahru. ICC Pahang memiliki jarak tempuh minimal 6 jam dan untuk mencapainya tentu tak mudah. 2 minggu lalu adalah pertemuan pertama untuk kelas ICC Pahang yang diisi oleh Wawan dan pak Irman. Tak ada pilihan lain selain menginap semalam di daerah Pahang. Tak mungkin melakukan perjalanan dini hari dengan total angka waktu sekitar 6 jam, kemudian diisi dengan mengajar sebanyak 6 juga. Setelahnya langsung pulang ke Johor Bahru dengan durasi 6 jam pula.

***

Pertemuan kedua di ICC Pahang menjadi giliran saya untuk bertugas bersama pak Jaka. Perjalanan ke Pahang melahirkan dua hal bagi saya dan pak Jaka untuk jalur menuju ke sana: Sepakat dan Tidak Sepakat. Kami sepakat untuk berangkat ke Pahang pada hari sabtu selepas salat subuh dan bertemu di Kuala Lumpur. Dan kami tidak sepakat untuk bersama-sama berangkat ke Kuala Lumpur pada Rabu malam sesaat setelah pulang sekolah. Pertimbangannya, pak Jaka tahu harus kemana jika tiba pukul berapa pun di Kuala Lumpur. Sementara saya harus mengatur janji terlebih dahulu pada teman yang bermukim di Kuala Lumpur agar mau menerima saya untuk sesaat membuat kamar kosannya sempit. Dan tak mungkin saya melakukannya dadakan, ditambah lagi harus datang di tengah malam buta. Lagi pula masih ada pekerjaan yang mesti saya selesaikan terlebih dahulu sebelum benar-benar harus ke Kuala Lumpur.

Kamis pagi sekitar pukul 10 pagi saya meninggalkan Bukit Saujana Bendahara B, tempat saya tinggal. Kebetulan hari kamis ini seluruh wilayah kesultanan Johor Bahru sedang libur maka saya pun merayakannya dengan berangkat sehari lebih cepat dari jadwal semestinya. Saya menuju terminal Larkin dengan menggunakan taksi konvensional. Biaya jasa hanya 8 ringgit saja.

Setibanya di terminal saya langsung menuju loket untuk membeli tiket. 6 bulan berada di Johor Bahru setidaknya sudah menambah pengetahuan saya mengenai sistem transportasi yang ada. Sehingga calo tiket atau driver taksi atau bus tak akan mudah mengelabui demi mengambil untung sendiri.

Melakukan perjalanan sendiri sebenarnya ada untung dan ruginya. Jika melakukannya berdua atau lebih, mulut tak bisa berhenti berbicara. Sebab ada teman untuk bercerita. Plus lainnya ada korban yang bersedia untuk jadi juru potret. Untuk sisi negatifnya, terkadang terjadi perdebatan kecil mengenai tujuan perjalanan. Dalam hal mengunjungi suatu tempat terkadang 2 kepala memiliki selera yang tak sama. Dan hari ini saya melakukan perjalanan sendirian. Kenapa tak berdua? Karena tak ada bisa diajak. Saya pun sering bepergian sendiri. Dan hal itu membuat saya melakukan semua hal yang saya inginkan tanpa adanya pertimbangan-pertimbangan.

Bus bertolak menuju Kuala Lumpur tepat pukul 12 siang. Perjalanan menuju Kuala Lumpur hanya merogoh kocek sebesar 35 ringgit. Tak ada fasilitas tambahan berupa makan dan minum gratis. Ini bukan pesawat. Pemerintah Malaysia betul-betul serius memperhatikan kualitas layanan publiknya. Bus antar kota yang saya tumpangi ini benar-benar nyaman. Full air conditioner dan kursi yang cukup lapang. Bus dengan nama armada Mayang Sari ini benar-benar ramah penumpang. Seperti halnya nama artis Indonesia yang ketika dipandang begitu menyejukkan. Itu sebelum dia menjadi semakin tua.

Di atas bus saya membunuh waktu dengan membaca buku kumpulan cerpen Mahfud Ikhwan, Belajar Mencintai Kambing. 5 jam perjalanan tentu sangat merugikan jika hanya habis untuk memaksa mata untuk tidur.

10 menit sebelum pukul 5 sore, Bus Mayang Sari tiba dengan selamat di Terminal Bersepadu Selatan (TBS) Kuala Lumpur. Kuala Lumpur bukan menjadi destinasi utama saya sore ini. Pemberhentian terakhir saya ada di Klang, Selangor. 1 jam perjalanan menggunakan KTM.

Sebelumnya saya belum pernah menggunakan jasa KTM di Kuala Lumpur. Pengalaman pertama menumpang KTM terjadi beberapa bulan lalu saat trip Singapura. Paling tidak saya tahu cara membeli tiket secara mandiri dengan mesin.

Melakukan perjalanan sendiri tentu saja membutuhkan skill tambahan agar tidak tersesat atau salah arah. Dan sialnya, menurut buku yang saya baca dan tentu saja saya ragukan kebenarannya namun benar-benar terjadi bahwasanya pemilik golongan darah B sangat payah dalam penguasaan membaca peta. Baik itu google map, printed map, atau pun plang-plang rute yang dilalui bus atau kereta. Semua itu tak bisa saya kuasai. Untung saja saya tak berkuliah di jurusan Geografi. Maka di saat saya tak paham rute mana yang mesti saya ambil untuk sampai pada tujuan. Saya mengandalkan dua hal: bertanya dan insting. Untuk hal kedua terkadang tak tepat maka dari itu saya menempuh cara pertama. Saya menghubungi Rani, teman yang bertugas di SIKL. Dia menjelaskan dengan runut. KTM apa yang mesti saya ambil. Dan di stesen (istilah stasiun di Malaysia) mana saya harus turun.

Saya mesti naik KTM jurusan ke KL Sentral terlebih dahulu, kemudian turun dan  membeli tiket baru dengan tujuan Klang. Di Kuala Lumpur tidak terjadi hari libur sebagaimana di Johor Bahru. Sehingga, sialnya, saya sedang berada di tengah-tengah eforia para pekerja di Kuala Lumpur mulai dari kelas bawah hingga atas yang sedang merayakan berakhirnya jam kerja dengan pulang menggunakan KTM. Selain praktis, hal tersebut juga hemat biaya. Saya saja yang mesti melewati belasan stesen hanya membayar 5 ringgit 60 sen saja untuk mencapai Klang.

Saya tiba di Klang sebelum pukul 6.30. Langit masih nampak merah. Suasana Klang cukup ramai. Di depan stesen saya langsung dicegat oleh supir taksi konvensional bertampang India. Sebelumnya Syamsul Bahri, rumah teman yang akan saya tuju, memberitahukan tarif dari stesen ke Bayu Perdana tempatnya tinggal hanya 15 ringgit. Harga tembak tanpa argo. Di atas itu, tawar atau cari taksi lain.

Saat tancapan pertama sang sopir taksi, ponselnya sudah menempel di kuping. Ia berbicara dengan seseorang di seberang sana. Nadanya tinggi. Sepertinya ia sedang marah-marah. 15 menit perjalanan saya hanya mendengarkan omelan. Sial.

Di depan flat di daerah Bayu Perdana, Syamsul Bahri menjemput saya. Kesan pertama melihat lingkungan flat tempatnya tinggal adalah Kumuh. Terkesan tidak terawat. Sampah berserakan. Banyak kedai makanan yang beratapkan tenda. Betul-betul merakyat. Dari Syamsul Bahri, saya tahu kalau penghuni flat dari A-L didominasi oleh mereka yang berdarah Bugis-Makassar. Istilah dari Rani “You punya Bangsa”. Itu ia katakan jika berbicara dengan saya atau Syamsul Bahri.

Syamsul Bahri langsung mengajak saya untuk makan Coto Makassar. Makanan khas Makassar yang terakhir kali saya cicipi sekitar 7 bulan lalu. Suapan pertama langsung mengingatkan saya pada Coto di jalan Hertasning Makassar.

Kemudian untuk melepas lelah kami langsung menuju flat blok G. di sana Syamsul Bahri tinggal bersama Helni dan Ibu Wardha.  Keduanya juga mengajar di Sekolah tempat Syamsul Bahri mengajar.

***

Saya menghabiskan waktu hanya semalam saja di Klang. Esok sore saya menempuh perjalanan lagi menuju Kuala Lumpur.

Perjalanan kembali ke Kuala Lumpur tergolong mudah bagi saya. Kecuali bagian harus berganti kereta di KL Sentral. Sebab lagi-lagi saya tak bisa memahami rute KTM menuju ke stesen Putra Mall. Jumat malam saya akan menginap satu malam di tempat Andik, kawan yang bertugas di SIKL. Siang tadi dia sudah meloloskan permintaan saya untuk transit semalam di kosannya di condo Villa Putra.

Pada akhirnya saya memakai insting untuk memastikan saya berada di platform yang benar. Nah, untuk kali ini saya selamat. Insting bekerja dengan tepat. Tiba di stesen Putra, Andik sendiri yang menjemput saya. Lalu kami makan malam di kedai. Selanjutnya menuju kosannya dan istirahat untuk persiapan besok hari yang jauh lebih berat.

***

Selepas salat subuh pak Jaka sudah siap di depan Villa Putra bersama mobil Proton Saga hitamnya. Saya berpamitan dengan Andik. Saya dan pak Jaka menembus subuh dengan 214 km perjalanan menuju UMP (Universitas Malaysia Pahang) tempat kami akan mengajar hari ini. UMP sendiri berada di daerah Gambang. 30 menit dari pusat kota Pahang.

Pagi masih dipenuhi kabut. Jalanan masih tampak sepi. Praktis tak ada hambatan. Kecepatan yang dimainkan pak Jaka berada di posisi 110-120 km perjam. Di Malaysia kecepatan kendaraan di jalan raya dibatasi pada angka maksimum 120 km perjam. Di atas itu siap-siap menerima surat denda di alamat masing-masing.

Saya telah berkomunikasi dengan Bapak Sulistyio. Beliau adalah salah satu dosen di UMP yang akan memfasilitasi proses pembelajaran di ICC Pahang.

Pak Sulistyio menunggu kami di pintu tol dekat UMP. Kemudian kami mengikuti mobil beliau yang mengarah ke UMP.

Kampus yang ditumbuhi oleh pohon-pohon beton ini cukup luas. Selain flat-flat tempat tinggal mahasiswa. Tak ada bangunan lain yang menjulang tinggi menantang langit.

Pak Sulistyio membawa kami ke sebuah ruang perkuliahan yang cukup luas dengan kapasitas 50 orang. Anak-anak Indonesia yang luar biasa itu telah menunggu kami. Tingkatan umur mereka cukup varian. Dari usia PAUD hingga SMA, semua ada.

Saya memegang kelas tingkat PAUD dan SD. Sementara pak Jaka menangani SMP dan SMA. Dimas, Dewi, Aimansyah, Aiman Hakim, Nabila, Julia, Ivan, Al Fathi, Dinda. Merekalah yang mengisi slot kelas bawah. Sementara Tirani, Ferro, Pascal, dan Naila menjadi anak didik dari Pak Jaka.

Kelas berlangsung seru di kelas SD dan PAUD. Selain kelas menggambar dan hasta karya. Tangisan Ivan yang lumayan kencang menjadi pemicu suasana ruangan cukup berisik. Sementara pos SMP dan SMA cukup serius menikmati penjelasan dari pak Jaka.

Kelas selesai tepat pukul 2 siang. Kami berpamitan pada murid-murid dan pak Sulistyio. Mobil kembali dipacu pak Jaka dengan kecepatan tinggi menju KL.

Kami memburu bus yang berangkat pada pukul setengah 8 malam. Kami berdua harus membawa mobil pulang dulu ke rumah pak Jaka. Kemudian menumpang MRT menuju ke TBS. Pada akhirnya kami tak mampu datang tepat waktu. Kami mendapatkan jatah bus yang berangkat pada pukul 20.15.

Bus melaju dengan kecepatan sedang menuju Johor Bahru. Sementara mata tak bisa tidur lelap akibat ac bus yang kurang ajar dinginnya. Besok harus kerja lagi.

***

kalau saya sibuk stalking, lalu siapa yang akan mencerdaskan anak bangsa.

20170324_180718.jpg

Teman Seperjalanan

20170324_110925.jpg

Sudut Bayu Perdana

20170325_095400.jpg

Calon Menteri Pariwisata, Calon Pemain Basket Profesional, Calon Dokter Hewan, dan Calon Juri Xfactor Indonesia

Dr. Ir. HENRY NASUTION SANG INSPIRATOR PERUBAHAN

Standar
KOLABORASI, itu yang Dr.Ir Henry Nasution tekankan untuk sebuah pencapaian tujuan dalam membangun masyarakat.
***
Sebelum matahari terlalu tinggi saya, pak Irman, dan Yusuf menyusur jalanan kota Johor Bahru yang agak lengang menuju ke kampus Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Kami ingin bertemu dengan pak Henry. Dosen senior Tehnik Mesin di UTM tersebut akan menjadi salah satu instruktur dalam rangka launching program pelatihan kerja yang diadakan di KJRI Johor Bahru. Peresmian ini dilakukan langsung oleh Ibu Retno L.P Marsudi, Menteri Luar Negeri RI.
Kedatangan kami semata untuk menjemput peralatan praktik pak Henry. Jumlahnya tak seberapa banyak tapi ukurannya yang lumayan besar dengan bobot yang tak ringan membuat butuh tiga tenaga atau lebih untuk mengangkutnya ke atas van sekolah.
Ini sudah ketiga kalinya saya bertemu dengan pak Henry. Bersama beliau jangan berharap akan menemukan jeda yang panjang untuk saling diam. Tipikal orang Medan yang selalu punya banyak bahan cerita untuk menghidupkan suasana. Dari bahan obrolan santai hingga hal-hal serius.
Pak Henry mengajak kami untuk membuka obrolan di ruang kerjanya. Kopi hitam khas Aceh menjadi teman yang paling menyenangkan menghabiskan waktu pagi ini.
Sebagai pembuka Pak Henry sedikit menerangkan beberapa project penilitian terbarunya. Dosen senior UTM ini merupakan peneliti yang cukup produktif melahirkan temuan-temuan baru. Konsen beliau dalam penelitannya ada pada proses penghematan tenaga listrik yang diperuntukkan pada gedung-gedung perkantoran atau pun hotel-hotel. Kata Pak Henry, saat ini beliau telah menjajaki beberapa kerja sama pada perusahaan dan rumah sakit untuk memasang hasil risetnya itu di tempat mereka.
Pada tahun 2016 pak Henry masuk 10 besar jajaran penemu terbaik Indonesia. Hingga saat ini beliau telah memiliki 15 penemuan dengan hak paten atas nama dirinya. Anak bangsa yang berkarya di negara lain. Di kepala saya dikungkung pertanyaan, kenapa orang seperti Pak Henry tak dihargai dan terpakai di negara sendiri. Padahal apa yang telah dilakukannya terbukti nyata. Sekali lagi, Indonesia hanya pandai mencetak generasi unggul tapi tak sanggup untuk mempertahankannya. Sehingga orang memilih berkarya di negara lain adalah pilihan sulit yang mesti dipilihnya. Terkadang hidup memang serba ketidakwajaran.
Pak Henry kembali mengungkapkan keresahannya perihal karir akademisnya di UTM yang sedikit lagi menemui kata sepakat untuk berakhir. Setahun dua tahun terakhir UTM mengalami krisis finansial, itu cerita yang saya dapatkan dari beberapa orang, yang mengharuskannya memangkas banyak anggaran di beberapa sektor. Dan salah satu dampaknya adalah pengurangan jumlah dosen yang dianggap tak layak pakai lagi hingga penurunan gaji bagi dosen-dosen yang masih dipertahankan karena pertimbangan kualitas. Dan pak Henry termasuk dosen yang masuk kategori berprestasi namun dengan satu syarat untuk dia tetap bisa meneruskan karirnya di UTM adalah pemotongan honor. Pilihan yang sulit.
“Saya sudah mendedikasikan ilmu saya di UTM, tapi pihak kampus tidak menghargai apa yang telah saya sumbangkan.” Kata Pak Henry.
Pilihannya adalah pindah ke kampus lain. Orang seperti pak Henry adalah tipe orang langka yang berkemampuan di atas rata-rata. Tingkat intelektualitasnya mumpuni ditambah lagi rasa sosialnya pun begitu besar. Sehingga salah satu kampus di Batu Pahat siap mengikatnya untuk mengabdi di sana.
Puas dengan cerita karir dan penelitiannya. Pak Henry membelokkan obrolan ke arah kegiatan yang kunjungan Ibu Menlu jumat besok.
Sejak lama pak Henry ingin berkontribusi bagi tenaga kerja imigran Indonesia yang ada di wilayah semenanjung Malaysia. Secara konsep dan ilmu pak Henry memilikinya. Namun sokongan finansial dan power kekuasaan sebagai penggerak yang masif tak dimilikinya. Sebab itu ia hanya menunggu moment hingga apa yang menjadi goalnya tersebut bisa terwujud.
Sekitar sebulan lalu, saat kami mengunjungi rumah Ibu Era (Guru SIJB) yang baru saja melahirkan, saya, pak Irman, pak Arafat (suami Ibu Era), Yusuf, Rian, Wawan, dan pak Henry berdiskusi kecil mengenai nasib para TKI yang datang ke Malaysia yang sangat memprihatinkan. Bekerja sebagai tenaga buruh di ladang atau kilang membuat mereka bertaruh pada nasib. Gaji kecil, risiko kerja besar dan hak-hak jaminan kerja semacam kesehatan atau asuransi untuk mengcover segala hal terkadang tak ditanggung oleh perusahaan yang mempekerjakan mereka. Dilema besar memang. Tapi mau bagaimana lagi. Negara sendiri pun telah kehabisan akal menyediakan lapangan kerja untuk mereka. Belum lagi pekerja rumah tangga yang paling sering bermasalah akibat tak dibayarkan upah bekerjanya bahkan banyak diantara mereka mengalami kekerasan seksual.
Jauh sebelum pertemuan malam itu, pak Irman dan pak Henry telah merumuskan ide untuk membuka semacam pelatihan bagi TKI sebagai wadah peningkatan skill mereka dalam bekerja. Sehingga saat mereka pulang nanti, mereka tak ragu lagi untuk membuka usaha atau minimal bekerja untuk sebuah perusahaan di Indonesia sebab mereka telah memiliki skill tambahan dan bersertifikat diakui. Begitu ide ini dibagikan ke salah satu fungsi di konsulat. Ada semacam tanggapan bahwa hal ini mustahil untuk dikerjakan. Sehingga sulit untuk terwujud.
Di diskusi malam itu pun kami membahasnya lagi. Kebetulan banyak kepala yang bisa berpikir tentu saja ide-ide segar lain bisa masuk sebagai penambal dari ide awal yang masih mentah.
“Saya dan pak Irman tentu sangat senang pada akhirnya ide kita ini akhirnya bisa berterima dan siap untuk dilaksanakan. KJRI benar-benar memainkan perannya sebagai jembatan solusi bagi kawan-kawan TKI.” Pak Henry dengan tawa khasnya.
Selain pada nasib para TKI, pak Henry juga menaruh perhatian lebih bagi SIJB. Ia juga ingin berkontribusi bagi sekolah. Mewakafkan diri untuk perkembangan SIJB. Beliau ingin SIJB tak hanya sekolah dengan konsep dominasi pembelajaran dengan mengedepankan project angka-angka di atas kertas hasil belajar siswa (baca: raport). Tujuan sekolah bukanlah mencetak manusia protokoler. Sekolah adalah tempat menciptakan inovasi. Sebab itu SDM di dalamnya haruslah unggul dan berdaya inovasi mumpuni.
“Ke depan kalau bisa, SIJB kita visikan sebagai sekolah berbasis usaha. Sehingga yang ada hanya kreatifitas dan inovasi. Tapi kemampuan akademik tetap bisa mengimbangi” Pak Henry menjelaskan.
Sebagai penutup pak Henry mengajak kami untuk berkolaborasi mengerjakan sebuah project riset kecil-kecilan mengenai SDM Indonesia yang bekerja di Malaysia. Tak hanya mengincar tenaga imigran yang bekerja di sektor ladang, manufaktur, atau kilang. Sebab kita juga memiliki orang-orang yang berkontribusi di sektor berkelas seperti dosen atau para pengusaha. Namun hanya saja gaungnya tak terdengar sama sekali. Tertutup dengan jumlah TKI yang bekerja pada kelas bawah.
Sekarang saya sadar kolaborasi adalah kunci utama sebuah tujuan. Konspirasi alam semesta, Fiersa Besari menyebutnya.
IMG-20170316-WA0011.jpg

Pak Irman, Pak Henry, dan Yusuf