MENIKAHLAH DENGAN ORANG YANG TEPAT

Lekat

Menikah adalah sunah. Sementara mendapatkan pasangan adalah akumulasi dari doa disertai ikhtiar yang panjang. Jika hidup adalah pilihan ganda, lalu kenapa kita tidak bisa memilih yang paling baik. Yang paling baik bukan ditentukan apa yang mata bisa nilai. Tapi juga melibatkan hati dalam memilih. Sama halnya pasangan hidup. Jangan sampai memilih yang enak di mata, kece di penampilan, aman di dompet, tapi lalai pada sikapnya. Siapa sih yang mau menjalani kehidupan rumah tangga dengan durasi panjang tapi hati tak pernah nyaman. Hidup selalu dipenuhi rasa was-was. Selektif bukan berarti jual mahal. Tapi kita butuh yang benar-benar sevisi dan sejiwa.

Kebaikan selalu mendatangkan kebaikan. Itu yang selalu saya yakini. Jika kebaikan yang telah kita beri pada akhirnya dibalas dengan keburukan. It’s ok. Kita tetap pasang senyum dan berusaha memaafkan. Biarlah perkara buruknya sikap seseorang pada kita menjadi urusannya dengan Tuhan.

Pasangan kita adalah cerminan diri kita. Bukan berarti saya menilai diri saya sendiri sebagai orang baik dan tak bercelah. Bukan sama sekali. Saya tetap menimbun dosa yang takarannya masih ditutup oleh Tuhan. Bukankah tak pernah ada kata telat untuk meminta tobat? Karena merasa hidup saya selama ini jika berkaitan dengan konteks ibadah selalu naik turun. Terkadang semangat, terkadang memaksakan diri untuk melakukan kewajiban. Sementara di luar wajib sangat jarang. That’s why saya butuh seseorang yang tak hanya menjadi medium pengubah status single semata tapi lebih dari itu. Saya butuh seorang pendamping yang menjadikan agamanya sebagai prioritas utama.

Setiap perempuan pasti mendambakan seorang laki-laki yang religius. Ibadahnya kencang. Wajib dan sunnahnya seimbang. Perkataannya dan perbuatannya selaras. Good looking and having a nice job adalah nilai tambah yang semakin membuat nilai pasarannya tinggi. Perfect. Tapi sangat jarang kita menemui yang sepaket seperti itu. Pun jika ada, seleranya pun tentu berkelas. Hehehehe. Saya pun mendambakan seseoroang seperti itu dalam versi perempuannya.

Beberapa kesempatan saya bertemu dan dekat dengan perempuan yang merupakan standar kriteria yang saya inginkan untuk menjadi pendamping hidup. Bukan secara fisik yang menjadi daya pikatnya. Cantik itu pilihan loh ya, bukan sebatas relatif saja. Bisa cantik karena dia pintar, bisa juga karena pupur. Itu kembali lagi ke masalah selera masing-masing. Yang jelasnya saya suka perempuan pintar. Nyaman diajak diskusi tentang apapun itu. Perempuan yang hanya membahas bedak, lipstik, daily outfit, atau hal-hal remeh lainnya tidak terlalu menarik minat saya terhadapnya.

Hingga suatu hari saya bertemu dengan seorang perempuan yang secara fisik biasa-biasa saja. Cantik tidak, jelek juga bisa dibilang tidak. Itu versi saya. Namun yang membuat saya terkesimah dan memutuskan melamar dia kurang dari sebulan pasca bertemu adalah pola pikirnya begitu terbuka. Semua hal dilihatnya dengan kaca mata agama.

“Agama, Mas. Segalanya berdasar di sana. Dari sebelum lahir hingga kita mati semua telah diatur oleh agama kita.” Itu yang dikatakannya suatu hari.

Ketika saya tahu dia pun berkecimpung di dunia parenting, saya tak berpikir panjang lagi. Ini dia yang saya cari selama ini. Perspektif agamanya cukup baik, mampu menjaga aurat dengan baik, serta ilmu mengasuh dan mendidik anak dia punya (in theory basically), belum lagi wawasan umum lain yang sering dia bagikan ke saya. Sehingga saya bisa paham apa yang sebelumnya tidak saya tahu. Bukankah cara mendidik anak yang baik dimulai dengan memilih ibunya? Dan saya melakukan itu.

Perjalanan menikah kami memang masih seumur jagung. Namun yang saya rasakan begitu besar dampaknya pada hidup saya, hidup kami tepatnya. Terutama hal yang berkaitan dengan penghambaan saya terhadap Tuhan. Ketika hendak melamarnya saya berterus terang tentang segala kurang yang saya miliki, terutama hubungan saya terhadap pencipta yang dekat sekaligus berjarak.

“Saya tidak pernah merasa sempurna. Lalu kenapa saya harus berharap menemukan yang sempurna. Segala penerimaan akan saya lakukan. Mau njenengan jarang salat, belum rajin mengaji, tetap saya terima. Saya yakin setiap orang akan mengalami fase buruk di hidupnya, kemudian akan datang masa di mana segala yang pernah buruk itu akan diperbaiki sehingga kualitas dirinya menjadi baik di hadapan Tuhan. Manusia mampu memvonis baik buruk seseorang. Tapi tetap Tuhan yang menentukan siapa layak menjadi hamba yang baik.” Nasihat yang saya dapatkan darinya.

Waktu memangkas semua ragu yang saya punya. Tak ada nikmat yang luput untuk saya syukuri. Menikah membuat saya siap menjadi manusia lebih baik lagi. Menikah bukanlah beban tapi ia adalah proses hijrah. Ia adalah proses menjadi dewasa sesungguhnya. Lalu kenapa tidak menikah kalau itu memang baik?

IMG_3507.JPG

Lagi pesan Go-Food

IMG_3572.JPG

Mencari hal-hal baru

 

 

Iklan

SEJARAH BERDIRINYA SIJB

Lekat
Hari ini suatu kehormatan bagi SIJB dan terlebih-lebih bagi saya. Kami kedatangan Bapak Djujur S.H Hutagalung. Pencetus ide keberadaan SIJB. Pejuang ulung agar SIJB harus berdiri. Mungkin tanpa kehadiran beliau di KJRI Johor Bahru, gedung belajar bagi anak Indonesia itu tak pernah ada.
Beliau datang menggunakan van sekolah yang dikemudikan oleh pak Ichsan. Pak Djujur datang bersama istri tercinta. Beliau ke Johor Bahru untuk beberapa keperluan. Ke Johor Bahru tanpa berkunjung ke KJRI dan SIJB terasa ada yang kurang.
Sembari bernostalgia, beliau akhirnya bercerita panjang proses berdirinya SIJB. Saya pun berterima kasih pada pak Irman yang mau memancing beliau untuk bernapak tilas.
Pada tahun 2010 pak Djujur mendapat mandat dari Kemenlu untuk bertugas sebagai Fungsi Pensosbud (Penalaran sosial budaya) di KBRI Kuala Lumpur. Tapi akibat suatu dan lain hal beliau akhirnya tak jadi bertugas di sana. Melainkan harus ke KJRI Johor Bahru dengan posisi yang sama sebagai Pensosbud. Basically, Pak Djujur adalah akademisi. Beliau adalah seorang Dosen. Seluk beluk pendidikan telah mandarah daging di tubuhnya. Sebab itu perjuangan hidupnya tak pernah lepas dari dunia kependidikan. Prestasi hebat lainnya dari beliau adalah pernah menjabat menjadi kepala sekolah SIN (Sekolah Indonesia Netherland). Selain itu di Indonesia tak kalah cemerlangnya prestasi beliau. Sudah puluhan sekolah yang telah beliau bangun berkat usahanya melobi sana sini sehingga ada pihak-pihak yang tergerak merealisasikan mimpinya. Yogjakarta, Kabupaten Solok (Sumatra Barat), hingga ke Pulau Nias di Sumatra Utara. Semua dirintisnya.
Setelah menjabat menjadi Pensosbud di KJRI Johor Bahru beliau pun akhirnya menanamkan mimpi. Di Johor Bahru harus ada sekolah untuk anak-anak Indonesia yang kurang beruntung karena tak memiliki akses untuk bersekolah di sekolah lokal. Dalam kata lain anak-anak tersebut tak berdokumen dan merupakan anak-anak dari para imigran pekerja Indonesia di Johor Bahru. Sebagian besar mereka bekerja di sektor perladangan, kilang, manufaktur, atau sebagai pekerja rumah tangga.
Di tahun 2011 beliu turun rembuk ke Pimpinan (Dubes KL) untuk meminta ijin mendirikan suatu lembaga pendidikan untuk memfasilitasi anak-anak Indonesia dalam belajar. Namun terjadi penolakan. Ide tersebut dianggap gila dan mengada-ada.
“SIKL saja yang sekolahnya legal, itu bermasalah. Apa lagi kamu yang ingin mendirikan di Johor Bahru. Jangan buat yang macam-macam.” Dubes ketika itu menegaskan.
Tapi pak Djujur tak mengenal kata menyerah. Yang ingin dikerjakannya bukanlah suatu hal yang melanggar hukum. Beliau akhirnya meneruskan apa yang telah menjadi niatnya tersebut. Beliau melakukan ini bukan untuk mencari nama. Beliau hanya menjalankan amanah yang telah Kemenlu berikan pada beliau. Buatlah pembaharuan di Johor Bahru.
Pada 2012, akhirnya Konjen Johor Bahru yang saat itu menjabat akhirnya memberi kesempatan kepada pak Djujur untuk merealisasikan berdirinya sebuah komunitas belajar. Ketika itu Pensosbud (dalam hal ini adalah area kerja pak Djujur) hanya memperoleh dana sebesar 240 juta. Sangat minim. Mau tidak mau karena sudah bertekad besar akhirnya beliau pun memakai anggaran pribadinya untuk membangun komunitas belajar di Johor Bahru sebagai penambal anggaran yang minim tersebut.
2013, tekad itu semakin besar. Pak Djujur pun berangkat ke Jakarta untuk menghadap ke Kemenlu untuk memohon dana bantuan tambahan agar sekolah bisa berdiri dengan segera. Tapi tak semudah terbayangkan. Pihak Kemenlu menolak. Sebab anggaran untuk ke sana tak ada. Tak menyerah sampai di situ, pak Djujur mengalihkan lobinya ke Kemendikbud. Departemen yang lebih powerful untuk urusan pendidikan.
Di suatu waktu pak Djujur bertemu dengan Bapak Moh.Nuh (Mendikbud saat itu) untuk meminta ijin pendirian sekolah di Johor Bahru. Tanpa rembuk yang panjang pada akhirnya bapak Moh.Nuh mengabulkan permintaan pak Djujur membangun sebuah sekolah di Johor Bahru. Tapi dengan syarat SIJB tidak berdiri sendiri tapi harus menginduk ke SIKL. Pun SIJB tak boleh memakai nama SIJB sebagai penamaan resmi sebab statusnya hanya sebagai pusat komunitas belajar yang dikenal sebagai ICC (Indonesia Community Center). Tapi aktifitas yang berjalan di dalamnya tetap nuansa sekolah. Tak masalah bagi pak Djujur. Terpenting adalah anak-anak Indonesia bisa terfasilitasi dalam belajar.
Namun pada saat itu Pak Moh.Nuh tak bisa mengambil keputusan secara sepihak. Beliau pun harus seiya sekata dengan Dirjen terkait dan Wamendikbud.
“Jika pak Wamen setuju maka sekolah di Johor Bahru bisa kita bangun.” Kata Pak Moh.Nuh ketika itu.
Tak membuang tempo pak Djujur segera menuju ke Kantor Wamendikbud. Tapi ternyata beliau tak ada di tempat. Ia sudah ada di bandara. 2 jam lagi pesawat beliau akan take off. Orang-orang yang bersama pak Djujur ketika itu menyarankan untuk mengejar pak Wamen ke bandara. Ini persoalan besar harus segera diputuskan. Beliau pun menuju ke bandara Soekarno-Hatta.
Pak Djujur pun berhasil menemui pak Wamen. Beliau menjelaskan maksud kedatangannya menemui pak Wamen di last minute seperti itu. “Pak Djujur saya salut. Sebelum pak Djujur purna tugas di Johor Bahru, inshaa Allah sekolah itu sudah berdiri.” Bonus lain yang didapatkan oleh pak Djujur dari lobi membahagiakan itu adalah pendirian PAUD. Bisa dikatakan the power of teman bekerja baik di sini. Kebetulan Dirjen PAUD ketika itu adalah kawan baik dari pak Djujur.
Peresmian PAUD Cahaya (Nama PAUD JB) dilaksanakan pada tanggal 1 Oktober 2013. Diresmikan oleh Ibu Anisa selaku ketua DWP (Dharma Wanita Persatuan) dan Bapak Taufiqur Rija (Konjen RI Johor Bahru saat itu). Sementara sekolah untuk tingkat SD dan SMP di resmikan pada tanggal 5 Januari 2014 dengan nama awal SIT (Sekolah Indonesia Terbuka) oleh Prof. Rusdi (Atdikbud Kuala Lumpur periode 2011-2014), Bapak Taufiqur Rijal, Bapak Djujur S.H Hutagalung.Kemudian berubah menjadi SIJB pada tanggal 5 Januari 2015 yang diresmikan langsung oleh Prof. Ari Purbayanto (Atdikbud Kuala Lumpur periode Desember 2014 – hingga saat ini). Perubahan nama ini merujuk kepada aturan yang telah dibuat oleh Kemenlu, bahwa setiap sekolah Indonesia yang berada di luar negeri harus bernama dengan basis letak kota di mana sekolah itu didirikan.
Segelumit perjalanan yang terjal mewarnai peta perjalanan SIJB hingga bisa menjadi seperti sekarang. Orang-orang yang terdahulu menentang atau bahkan pesimis akan hal ide gila pak Djujur ini, sekarang bisa kembali bersatu frekuensi mendukung eksistensi SIJB dalam pemenuhan hak-hak anak bangsa dalam mendapatkan fasilitas pendidikan.
20170313_150110.jpg

Pak Djujur (kemeja Pink)

20170313_150730.jpg

Pak Irman memberikan penjelasan perkembangan sekolah

WELEM

Lekat

2013, ketika itu saya masih bertugas sebagai Guru SM-3T di salah satu sekolah yang terletak  di kabupaten Raja Ampat. Setahun. Terbilang singkat  untuk memahami dinamika pendidikan di daerah pelosok secara utuh. Tapi bukan berarti sensasi pengabdian tak saya dapatkan. Di sana saya menemukan berupa-rupa pelajaran hidup.

***
Saat itu saya bertemu dengan sosok siswa bernama Welem. Tubuhnya kecil. Mengingatkan saya pada Daus Mini. Kulitnya hitam khas orang-orang Papua. Rambutnya keriting.
Jika ingatan saya masih tepat. Ia tak pernah absen setiap kali saya masuk mengajar di kelasnya. Kala itu ia duduk di kelas VII SMP. Saat ini, jika terus bersekolah, ia sudah SMA.
Dia duduk di bangku paling depan. Tepat di hadapan meja Guru.

20130923_075610.jpg

Welem dengan senyum manisnya

Di dalam kelas ia tak banyak bicara. Ia selalu turut pada instruksi yang keluar dari mulut saya. Ia tak pintar. Bicara konteks intelektual siswa-siswa di pedalaman Papua memang memprihatinkan. Sebab pengajaran bukan di mulai ketika bel masuk berbunyi. Tapi saat menyadarkan mereka untuk mau datang ke sekolah. Di beberapa kasus -saya belum pernah mengalaminya- teman-teman saya yang mengabdi di lokasi lain mesti menjemput siswa door to door agar mau datang ke sekolah. Menurut saya, siswa yang pintar di antara mereka adalah yang mampu membaca dengan baik dan benar. Disertai kemampuan menulis yang baik pula. Bukan mereka yang kritis di dalam kelas atau mereka yang mampu menjawab setiap pertanyaan yang disajikan. Saya menemukan masih banyak yang belum bisa keduanya. Termasuk mereka yang duduk di bangku SMA.

***

Kembali ke Welem.
Kami tak banyak berinteraksi. Alasannya itu tadi. Ia cenderung pendiam. Bersama teman-temannya pun ia terlihat berperilaku sama.
Suatu istrahat sekolah, saya yang masih memeriksa tugas-tugas siswa memperhatikan Welem yang memilih duduk di bangkunya. Sepertinya jam istrahat bukan sesuatu yg spesial baginya.
“Ko tra keluar?” Tanya saya memecah diamnya.
“Tra ada pak Guru. Tong di dalam kelas saja.” Sambil ia menggeleng beberapa kali.
Kami berdua diam.
Saya belum puas. Ini momen langkah. Jarang saya berinteraksi dengannya. Sebab di dalam kelas setiap ajuan pertanyaan saya selalu direspon olehnya dengan sikap diam.
“Sudah makan?”
Ia menggeleng lagi.
Pertanyaan yang masih membuatnya hemat kata.
“Kau suka sekolah?” Seketika kepalanya terangkat.
“Suka pak Guru.” Ia mulai terpancing.
“Kenapa?”
“Karena saya mau jadi anggota DPR.” Suaranya begitu semangat. Saya mulai tertarik.
“Kau tau apa itu anggota DPR?”
“Tau pak Guru.”
“Apa?”
“Dorang yang biasa datang bagi-bagi beras, sabun, indomie, dan baju.”
“Untuk apa?”
“Sa pu mace bilang supaya dorang ditusuk saat pemilu.”
“Jadi kau mau seperti dia?”
Welem hanya mengangguk.
“Kau tak mau jadi polisi atau guru kah?”
“Tak mau pak Guru. Anggota DPR saja.”
****
Sampai di sini saya paham. Siswa sebenarnya butuh seorang figure inspiratif yang mampu memicu sumbu keinginan mereka untuk menjadi seseorang yang berguna di masa depan. Mudah bagi siswa yang bersekolah di kota-kota besar untuk mengakses informasi. Manakah tokoh yang bisa mereka idolakan dan bisa mereka jadikan sebagai sosok panutan.
Sementara di daerah pelosok yang listrik saja adalah suatu barang mewah dan internet masih menjadi benda asing yang berada jauh di luar nalar mereka. Di luar sana semua telah termodernisasi. Sementara mereka masih hidup di era usaha memanusiakan manusia.
Welem salah satu contoh manusia pelosok yang secara tidak langsung meminta diperlakukan sebagai manusia utuh. Meminta agar diberikan hak mengenyam pendidikan.

***

Janganlah cuma menjadi orang yang sukses, tapi jadilah manusia yang mempunyai nilai.  -Anis Baswedan-

20130924_064815

Bayangkan jika mereka tak memiliki Guru. Bangsa ini akan kehilangan banyak calon penerus

ICC MUAR DAN PAHANG

Standar

Perjalanan selalu memberikan pengalaman. Sebagaimana pengalaman itu membentuk kita menjadi pribadi yang kuat dalam menyikapi kehidupan yang sedang berjalan dan begitu rumit.

Jumat-Sabtu terakhir yang seharusnya menjadi pekan istrahat, sebab SIJB tengah libur, saya dan beberapa rekan lainnya melakukan perjalanan ke ICC Muar dan ICC Pahang. Perjalanan tersebut diselimuti hasrat berbagi yang kuat. Perjumpaan dengan anak-anak Indonesia yang belajar di ICC sungguh kesenangan lain yang tak bisa disepadankan dengan mendapatkan bonus t-shirt dari sebuah ajang jalan sehat.

Saya berangkat bersama Yusuf dan Rian. Keduanya bertugas sebagai pengemudi. Mereka bergantian. Kesepakatan menyetir hingga berapa ratus kilometer diatur seimbang oleh keduanya. Tugas yang saya emban kali ini bukan untuk mengajar, tapi sebagai juru gambar. Dalam rangka pembuatan video profil IC, saya ikut dalam misi ke Muar dan Pahang kali ini. Tak hanya kami bertiga. Bersama kami ikut pula tiga perempuan lain. IO dan AIS (yups, itu dua buah nama untuk dua orang yang berbeda) yang saat ini berstatus sebagai mahasiswa magang di SIJB. Memberi mereka pengalaman berharga dengan menyusur perjalanan darat dan berkunjung ke tempat-tempat baru tentu saja menjadi hal luar biasa bagi mereka. Perempuan terakhir adalah Untari. Ia adalah seorang Mahasiswa dari salah satu universitas di Jogja. Untari sedang dalam misi menyelesaikan tesisnya yang berkosentrasi pada studi kasus tentang pelayanan pendidikan untuk anak-anak Indonesia di Semenanjung Malaysia.

Kami telah sepakat berangkat sebelum waktu menginjak angka Sembilan. Perjalanan menggunakan mobil sekolah. Ini akan menjadi perjalanan yang panjang. Untuk mengusir kebosanan di speaker mobil telah tersetel lagu-lagu hits Sheila On 7, Padi, Dewa 19, dan beberapa lagu berbahasa Inggris serta lagu India sesekali menyelip.

Tujuan pertama adalah ICC Muar. Jarak dari Johor Bahru memakan waktu sekitar 2 jam. Bisa molor atau tepat waktu tergantung seberapa ramai jalanan yang kami lalui. Kami tiba pukul 10.30. Rumah Ibu Lasmi, yang menjadi tempat belajar ICC Muar, sudah nampak ramai oleh suara anak-anak. Mereka telah menunggu kedatangan kami. Mereka memakai batik senada. Berwarna ungu dan agak longgar. Semuanya menyalami dan mencium punggung tangan kami. Riuh sekali mereka. Kegembiraan seperti ini yang tak bisa kita lihat tanpa adanya upaya mendirikan rumah belajar seperti ICC Muar ini.

Sebelum belajar dimulai, anak-anak itu menunjukkan sebuah tarian selamat datang kepada kami. Sesuatu yang baru mereka pelajari. Saya turut menjadi saksi awal-awal dibentuknya ICC Muar, hingga saat ini perkembangannya sungguh luar biasa. Meski dililit keterbatasan, ICC Muar masih bisa bertahan. Orang-orang di balik layarnya memang penuh dedikasi dalam mengabdi.

Pelajaran diisi oleh IO, AIS, dan Yusuf. Sementara Untari lebih memilih untuk berbicara empat mata bersama Ibu Lasmi. Rian lebih sering berinteraksi bersama orangtua siswa yang sedang menunggui anaknya belajar. Saya mengambil gambar dan berusaha merekam adegan-adegan yang sedang terjadi.

Proses belajar selesai pukul 13.15. Saya, Rian, Yusuf, dan murid laki-laki beranjak untuk salat jumat. Sementara lainnya menunggu. Selepas salat kami dijamu makan siang oleh Ibu Lasmi. Ibu Lasmi bagi saya sudah terlampau baik dalam memperlakukan orang-orang sekitarnya. Dedikasinya terhadap pendidikan anak-anak Indonesia yang ada di Muar tak ada batasnya. Semua diberikan tanpa sekat perbedaan atau tebang pilih objek yang akan dibantunya.

Apa yang pemerintah tak bisa berikan pada pendidikan Indonesia?

Jawabannya; orang-orang seperti Ibu Lasmi dengan jumlah yang banyak.

Kami pamit pada tuan rumah dan anak-anak. Perjalanan masih 4 jam lagi menuju Pahang. Selambat mungkin kami sudah harus tiba di Pahang saat magrib. Biar istrahat kami bisa panjang untuk mengeksekusi rentetan kegiatan besok hari.

Sebagai koordinator perjalanan ini, saya sudah berinteraksi dengan Pak Anwar yang menjadi pengelola ICC Pahang. Bagi saya Pak Anwar adalah Ibu Lasmi dalam versi laki-laki. Dedikasinya serupa. Ini bukan bentuk pujian-pujian. Saya berkata dengan fakta yang saya lihat dan rasakan sendiri apa yang sedang berlaku di Muar dan Pahang.

Kami bertemu Pak Anwar di rumahnya. Tempat belajar ICC Pahang berada di dalam kampus Universiti Malaysia Pahang (UMP). Awalnya ruang perkuliahan yang kami gunakan sebagai tempat belajar bagi anak-anak ICC Pahang. Namun karena lain hal kegiatan belajar dipindahkan ke student lounge yang berada tepat di depan rumah Pak Anwar.

Mulai hari ini juga kegiatan belajar akan berpusat pada dua lokasi. Pertama di UMP dan satu lainnya di salah satu rumah warga yang berada di daerah Taman Tas. Sekitar 20 menit berkendara. Di Taman Tas merupakan kelas perdana. Ketakutan para orangtua untuk mengantarkan anak-anak mereka ke UMP menjadi alasan utama kenapa para pengajar harus melakukan jemput bola, bukan menunggu. Para orangtua tersebut tak memilki dokumen tinggal resmi. Anak-anak mereka pun sama. Risiko ditangkap dan ditahan dalam penjara imigrasi Malaysia merupakan 2 hal yang mereka hindari. Meski risiko lainnya harus ditempuh; menghentikan pendidikan bagi anak-anak mereka. Jalan keluar yang ditempuh Pak Anwar adalah menjemput bola.

IO dan AIS bertugas di UMP. Sementara Yusuf mengajar di Taman Tas. Anak-anak yang belajar di UMP adalah mereka yang berorangtuakan para dosen yang mengajar di UMP. Barang tentu mereka telah memiliki dokumen tinggal resmi. Mereka juga sebenarnya telah bersekolah di sekolah-sekolah lokal Malaysia. Hanya saja mereka tetap ikut belajar di ICC Pahang dengan tujuan menguatkan wawasan kebangsaan mereka tentang Indonesia yang tak mereka dapatkan ketika belajar di sekolah mereka.

Saya bersama Pak Anwar, Rian, dan Untari menemani Yusuf ke Taman Tas untuk pertama kalinya. Ini menjadi kunjungan kedua saya ke sana yang sebelumnya saya ke tempat itu dalam rangka survei anak-anak Indonesia yang tidak bersekolah bersama Pak Irman dan Ibu Is yang salah satu anaknya juga menjadi murid di ICC Pahang.

Di Taman Tas kami disambut oleh 6 orang anak yang siap ikut belajar. Sehari-hari mereka hanya menghabiskan waktu di rumah tanpa kejelasan masa depan. Kedatangan kami kali ini setidaknya memberi mereka harapan dan memberitahukan pada mereka bahwa belajar itu menyenangkan.

Yusuf memulai pembelajaran dengan bernyanyi. Di SIJB, Yusuf memang menjadi spesialis mengajar di kelas rendah. 1 jam menemani Yusuf. Kami, selain Yusuf, kembali lagi ke UMP. Di UMP saya belum mengambil gambar karena ketika berangkat tadi proses belajar belum dimulai.

Pembelajaran selesai pukul 1 siang. Kami pamitan pada anak-anak di UMP dan juga pada Pak Anwar. Selanjutnya kami menjemput Yusuf dan menyempatkan berfoto bersama anak-anak di Taman Tas.

Tugas dua hari ini selesai. Berikutnya kami akan kembali ke Johor Bahru dengan estimasi perjalanan selama 6 jam. Kami kembali dengan rangkuman hasil perasaan masing-masing setelah mengalami dua hari yang cukup mengejutkan, terutama bagi IO, AIS, dan Untari, selama di ICC Muar dan Pahang.

IMG_6307.JPG

ICC Muar

pahang 2.png

ICC Pahang

pahang3.png

ICC Pahang

Pahang.png

ICC Pahang

Reaksi Setelah Nonton Dilan 1990

Standar

Bagi saya film Dilan 1990 biasa-biasa saja. Tidak terlalu istimewa dari apa yang digembor-gemborkan atau yang pernah menjadi viral hampir seantero Indonesia.

Don’t judge the movie by its book.

Penonton memang menuntut sesuatu yang sama bahkan lebih tatkala sebuah novel diadaptasi ke dalam layar lebar. Kita telah diberi patokan bahwa novel Dilan karya Pidi Baiq sangat memuaskan alur certitanya. Sebuah cerita sederhana dan begitu jamak di kehidupan sekolah, namun dikemas sangat berbeda. Itu lah mengapa Dilan memiliki banyak penikmat.

Di Indonesia sendiri film Dilan tempus di angka 6 juta lebih penonton. Usianya di bioskop juga cukup panjang. Karena saya tidak di Indonesia, maka perkembangannya hanya bisa saya nikmati lewat sosial media atau portal media online. Jujur, saya pembaca buku-buku Pidi Baiq, terutama trilogi Dilan.

Pada akhirnya film Dilan  1990 mampir ke Malaysia. Mencoba peruntungan di negeri tetangga. Apakah sengatannya juga bakalan seheboh di rumah sendiri, saya belum tahu. Angka penonton yang membeli tiket yang bisa membuktikan kedahsyatan film ini.

Perdananya memang akan tayang pada tanggal 29 Maret. Namun sayangnya saya juga lagi bernafsu untuk menonton film Ready Player One milik Steven Spielberg. Saya mau menonton keduanya. Pulang sekolah saya langsung menuju ke sebuah pusat perbelanjaan yang tidak jauh letaknya dari sekolah. Saya jalan kaki dengan memotong jalan. Mumpung sudah di bioskop, saya sekalian nonton keduanya. Saya menghabiskan waktu sekitar 4 jam untuk kedua film tersebut.

Apakah masih hari pertama atau memang masyarakat pecinta film di Johor Bahru tidak terlalu antusias menonton film Dilan. Di studio 11 hanya ada 3 orang termasuk saya. Padahal studio-studio lain yang memutar film lokal atau Pacific Rims cukup penuh. Ini kembali lagi ke masalah selera.

Kembali ke filmnya. Dilan tidak memberikan saya suatu kepuasaan apapun setelah keluar dari studio 11. Ekspektasi saya terlalu besar sepertinya. Saya tidak mengatakan kemampuan Iqbal sebagai Dilan jelek atau bagus. Hanya saja sebagai panglima tempur geng motor bagi seorang Iqbal tidak terlalu mencerminkan sebagai bad boy. Iqbal jauh lebih cocok berperan Ketua Osis daripada panglima tempur.

Setiap penonton film punya tingkat kepuasan masing-masing setelah menyelesaikan suatu film yang ditonton. Film sama halnya musik. Semua tergantung selera. Jika saya bilang Slank itu bagus, tentu di luar sana banyak yang akan tidak sepakat. Dilan bagi saya kurang memuaskan, di luar sana juga akan banyak manusia yang tidak sepakat akan pendapat saya itu. Kembali lagi kepada titik kepuasan.

TENTANG SEKOLAH

Standar

Sekolah itu menyenangkan dengan segala dinamikanya yang senantiasa berputar. Banyak mungkin berpikir jika sekolah hanyalah lembaga untuk menuntut ilmu yang pada akhirnya diganjar selembar ijazah yang isinya semacam laporan angka-angka seorang bendahara kegiatan.

Sekolah adalah liputan harian yang akan kita rekam dan kelak berguna saat semua hal yang telah sekolah berikan telah sirna pada kejadiannya. Yang tersisa hanyalah ingatan-ingatan. Tergantung sebagaimana kita mengikatnya.

Benturan ingatan dan kejadian adalah perayaan besar di masa depan. Kita mencoba mengingat-ingat kejadian di masa beberapa tahun silam itu seperti apa rinciannya. Kapasitas kepala kita memang tak sanggup menampung secara keseluruhan, namun paling tidak yang sangat berkesan akan menempel hingga keriput membungkus kulit.

Kecintaan kita pada sekolah akan sulit luntur jika kita benar-benar telah menselaminya begitu dalam, begitu lama. Kenangan yang bermain terasa begitu nyata. Menyentuh kulit. Memanggil airmata. Sulit rasanya memedam keharu biruan itu.

Sekolah adalah tempat kita pulang bersama kenangan. Sekarang, masa lalu, dan masa depan adalah ruang-ruang bijaksana yang membentuk kita dalam sebuah hasrat; menjadi besar melalui sekolah.

Peranan sekolah selalu paling utama membentuk seseorang di masa depan. Bagaimana sekolah diperlakukan, begitu pula kelak sekolah akan membalas budinya. Kita diberi harapan besar. Tergantung bagaimana kita bersikap terhadapnya. Sekolah memang bukan hanya sekadar tempat belajar. Sekolah memang juga bagian dari bersenang-senang. Namun jika terlena, akibatnya juga bisa fatal. Kita hanya bisa melihat kemuraman. Langit menjadi hitam. Senyum senantiasa malas mengembang.

Kita di masa depan adalah kita yang merangkak hari ini. Serba instan hanyalah bualan iklan di media-media. Segala bentuk pencapaian besar adalah usaha-usaha yang selalu digiatkan, dan dibela mati-matian. Sekolah mengajari kita sebagai pribadi unggul, mandiri, dan pengambil keputusan tepat dan kilat.

Dunia ini luas. Ia dibentuk oleh peradaban. Zaman lintas melintas dan begitu maju. Sekolah tak pernah lepas dari kemajuan-kemajuan itu. Dari dulu hingga waktu ke depan yang begitu jauh sekolah tetap akan memainkan perannya sebagai komoditas perubahan.

Jika pada masanya sekolah tidak lagi menjadi tokoh utama untuk memanusiakan manusia. Maka dari mana lagi kebaikan-kebaikan akan ditumbuh kembangkan. Sebab di jalanan atau gang-gang sempit tumbuh subur kecongkakan. Serta kematian dalam keter-asingan begitu dekat. Begitu sangat nyata.

KABAR BAIK

Standar

Di luar cuaca yang panas sedang menyerang. Saya berlindung di dalam kelas yang memiliki mesin penyejuk. Kebetulan sekolah sudah sepi. Anak-anak sudah pulang satu jam lalu. Jam wajib pulang guru masih satu jam lagi. Biasanya saya memilih menyendiri di ruang kelas untuk menyelesaikan pekerjaan lain. Kalau pekerjaan beres saya memilih tidur hingga waktunya pulang.

Dua jam sebelumnya istri saya mengirim pesan via WA. Katanya ingin bicara. Bicara maksud dia bukan obrolan lewat telepon melainkan bicara lewat jempol berkonsep.

“Nanti. Bubaran sekolah. Saya masih ada kelas.” Saya membalas.

Seperti biasa jika begitu dia hanya akan merespon dengan kata iya dan tambahan emoticon senyuman.

Saat semua beres saya mengirimi dia pesan. Direspon dengan cepat. Sepertinya dia sudah siap dari tadi menunggu sinyal saya untuk membahas sesuatu yang terdengar sangat penting.

Percakapan dia buka dengan membahas perihal haidnya beberapa hari yang lalu. Dari keterangannya yang keluar ketika itu bukanlah darah haid. Sebab setelahnya tak ada lagi darah. Selain itu dia pun merasa ada yang janggal dengan tubuhnya. Gampang lelah dan maunya baring terus. Karena curiga dia sedang berbadan dua. Dia tergerak untuk mencoba menguji rasa penasarannya dengan menggunakan testpack. Seperti dugaannya; positif.

Itu belum hasil akhir. Bisa saja itu tidak akurat. Apa lagi dia melakukannya tidak sesuai anjuran terbaik penggunaan testpack; kencing pertama saat bangun tidur.

Kemudian istri saya menemui salah satu bidan kenalannya. Sang bidan pun masih belum bisa memberikan kepastian bahwa istri saya benar-benar hamil atau tidak jika dasarnya hanya berupa dua garis di permukaan testpack. Perlu ujicoba tingkat lanjut. Maka istri saya diminta untuk melakukan USG.

Terjadwal seharusnya istri saya melakukan USG esok hari. Namun mendadak dia diberi tahu oleh bidan di klinik jika sang dokter akan cuti mulai besok. Dan yang tersisa hanyalah dokter laki-laki. Istri saya tidak mau diperiksa oleh dokter laki-laki.

Selepas magrib istri saya meminta izin untuk ke rumah sakit saja untuk melakukan USG. Saya mengizinkan. Dia berangkat ditemani oleh teman kampusnya. Saya diminta menunggu hasil. Dua jam kemudian hasil yang ditunggu-tunggu keluar. Istri saya benar-benar hamil dengan usia janin 6 minggu. Antara senang dan tidak bagi saya. Senang karena dia bisa “isi” begitu cepat. Kurang senang karena saya tidak bisa mendampinginya di saat seperti ini. Semestinya saya berada di dekatnya dan memberikan dukungan yang banyak terhadapnya. Tapi berjauhan adalah risiko hubungan kami yang telah disepakati sejak awal. Nasib rejeki saya ada di Malaysia. Mau bagaimana lagi.

Saya dan istri telah selesai dengan kesepakatan jarak. Selalu membutuhkan pengorbanan untuk kebaikan-kebaikan. Bukan yang ingin dinikmati dalam waktu dekat. Nanti. Sesuatu yang baik itu datangnya nanti. Kami berkorban lebih dulu. Kami menangis terlebih dahulu. Kami menahan rindu lebih dahulu. Karena kami sedang merancang masa depan. Iya, masa depan kami. Kami berdua dan kebaikan-kebaikan yang akan kami sebarkan kepada orang-orang tercinta yang ada di sekitar kami.

“Mas, 2 hari yang lalu saya bermimpi.”

“Apa?” Saya penasaran.

“Saya mimpi melahirkan anak kembar.”

“Wahh. Semoga jadi nyata.”

Saya cukup senang jika harus mendapatkan dua titipan Tuhan sekaligus. Calon hafidz/hafidzah kami berdua. Calon false nine Timnas Indonesia. The New Egy Maulana Vikry.

sumber gambar: omsehat.com

KEPADA YANG PERNAH ADA

Standar

Ini ada sebuah penggalan yang ingin aku sampaikan. Entah kelak tulisan ini sampai padamu atau tidak. Aku tak tahu. Aku hanya sedang berusaha mengingat-ingat beberapa bagian kisah yang pernah kita punya dan kucoba untuk menuliskannya. Semoga kau tak marah saat tulisan ini kau baca. Ini bukan bertujuan memanggil ingatan. Ini bukan pula suatu perayaan kenangan. Tapi ini hanyalah penanda bahwa lupa di antara kita sama sekali tak ada. Aku menuliskannya sementara kau, mungkin, sedang masih berjuang melupakannya. Di pikiran, tak semua hal bisa tinggal. Namun tak semua pun dapat pergi. Sebagaimana aku dalam kalimat-kalimat berikutnya.

Dulu satu-satunya cita-cita yang paling sering kita perjuangkan adalah cara bersama dalam waktu yang lama dengan persetujuan semua pihak. Entah berapa kali kamu menangis. Tak bisa kuingat dengan jelas. Kau diminta mencintai orang lain. Sementara setengah hatimu yang lain ada padaku. Ketika itu kita masih muda. Aku ingat kau datang ke kota di mana kau masih lugu dan membawa beban harapan orangtua.

Aku rasa bahagia itu tercipta dengan sendirinya. Bukan diciptakan. Apa lagi dipaksakan. Dan hal terakhir itu ada pada kita. Orang-orang itu berpikir. Jika memisahkan kita adalah kebahagian bagi kita. Salah besar. Justru itu menjadi biang keputusasaan kita dan menjadi luka seumur hidup. Mungkin juga kau tahu bagaimana rasanya mencintai lalu tidak disatukan. Kemudian kau diminta untuk masuk ke kehidupan orang lain dan menjadi orang lain di dalam drama hidupnya. Senyummu kosong. Kau menjadi korban mimpi-mimpi orang lain.

Ingatan tidak pernah diam. Aku selalu berusaha menerima segala apa yang tidak tertuliskan untukku. Aku bisa paham untuk urusan satu itu. Hanya saja jika harus seperti itu jalannya lalu kenapa ingatan-ingatan tentang kamu. Tentang kejadian-kejadian di masa kita bersama tidak lenyap secara keseluruhan. Aku telah menerima keadaan. Keadaan yang membingungkan itu. Tapi tetap saja waktu tetap menahan ingatan-ingatan itu. Sehingga aku tetap menjadi aku yang dulu. Sebagai makhluk yang egois yang hanya mampu mencintai satu objek saja; kamu.

Keyakinanku sekarang tidak sekuat dulu lagi. Mustahil untuk menjadi bagian di hidupmu. Lagi pula sekarang engkau ada di mana aku tidak tahu. Aku pun tidak mencoba mencari tahu. Untuk apa lagi? Kini semua telah berjalan sesuai dengan narasi yang diciptakan orang lain. Sementara apa yang telah kita rakit hanya berakhir di gudang berdebu bernama kenangan.

Jika tulisan ini benar-benar sampai padamu suatu hari nanti. Aku harap kau ingin membacanya sampai tuntas. Terutama di bagian setelah ini. Karena itu akan mengingatkanmu pada suatu hal. Hal yang tak luput dari ingatanku. Jika kau ingat. Cukup tersenyum saja. Dengan begitu aku tahu kau sedang membaca tulisan ini dan mencoba mengingat hal itu.

Kamis. Buku. Jalan raya. Pantai.

Semoga bagian itu masih tetap tersimpan.

Sebagaimana aku di sini. Sebegitu lemahnya aku untuk menghilangkan semua itu.

 

 

PEMATANGSIANTAR

Standar

Emak pernah bilang kalau kami itu orang Pematangsiantar. Saya tidak tahu apa itu Pematangsiantar sebelumnya. Jadi saya sering tanya Emak dan Erin apa itu Pematang Siantar.

Kamu tidak pernah tahu betapa sulitnya menjadi anak kecil yang selalu penasaran untuk hal-hal baru. Saya ingin tahu apakah semua orang dewasa yang pernah terjebak di masa kecil merasakan fase yang sama seperti yang saya rasa saat ini? Tapi menjadi saya itu berat. Saya ingin banyak tahu tapi tidak cukup jawaban yang saya terima.

“Pematangsiantar itu kampung asal Emak. Emak lahir di sana.” Kata Emak suatu waktu.

“Pematangsiantar itu ada di mana, Mak?” Saya penasaran.

“Pematangsiantar itu dekat Medan, Indonesia.”

Saya bingung. Apa lagi itu Medan. Apa lagi itu Indonesia?

“Macam mana itu Mak?” Saya semakin dibumbui penasaran.

“Jadi Pematangsiantar itu letaknya di Sumatera Utara. Dekat Medan,” Emak diam. Emak mencoba berpikir lagi. Emak mencari kalimat yang pas agar saya bisa mengerti dan tidak mengulang-ulang pertanyaan,”Indonesia itu nama negara asal Emak. Di dalamnya ada Sumatera Utara. Ada Medan. Ada Pematangsiantar.”

Sebenarnya saya kurang begitu paham kata-kata Emak. Tapi saya senyum saja. Emak senyum. Mungkin Emak berpikir saya sudah mengerti seutuhnya. Padahal belum. Pematangsiantar, Medan, Sumatera Utara. Itu asal Emak. Sejauh ini yang saya dapat dari Emak. Saya tidak mau ambil pusing. Biar saja tetap begitu. Suatu saat saya juga akan tahu kebenarannya.

Sebenarnya saya pernah dengar penyebutan Indonesia. Beberapa kali. Di antara obrolan Erin dan Emak saya mendengar kata Indonesia. Saya hanya mendengarkan. Tidak ikut bicara. Saya pikir itu bukan hal yang penting. Karena bukan hal yang penting saya tidak bertanya.

Kalau saya tanya Erin, kami dari mana. Erin jawab Pematangsiantar.

“Pematangsiantar, macam Mana?”

“Pematang Siantar di Sumatera Utara,” kata Erin.

“Macam mana?” Saya sedikit menaikkan nada suara ke Erin.

“Pematangsiantar itu di Sumatera Utara. Sumatera Utara itu di Indonesia.”

Sama saja. Saya belum bisa mengerti. Pokoknya Emak dari Pematangsiantar. Begitu saja. Saya tidak perlu bertanya lagi. Nanti kalau sudah besar saya akan mengerti sendiri.

Saya mau tidur dulu. Saya capek. Tadi sore abis main di lapangan samping surau. Hafiz yang rumahnya dekat kedai runcit saya pukul. Bukan salah saya. Hafiz duluan. Hafiz tendang betis saya. Dia marah karena saya lempar Putu. Kena badannya. Kemudian Putu lari entah ke mana. Putu itu kucing Yunia. Yunia itu teman saya dan Hafiz. Rumah Yunia ada di belakang surau. Yunia tidak melihat saya melempar Putu. Tadi sore Yunia pulang cepat. Yunia diajak emaknya ke Pasar Borong Pandan. Hafiz lihat saya lempar Putu. Hafiz mungkin jengkel. Seharusnya yang marah itu Putu. Bukan Hafiz. Tapi sudahlah. Besok Hafiz pasti masih mau diajak main lagi. Minggu lalu saja sepeda Hafiz saya buang di *longkang. Besoknya kami main lagi. Seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Padahal melempar sepeda Hafiz itu drama anak kecil pada sore hari.

*Selokan

RUANG BACA

Standar

SIJB memiliki penanggung jawab di bidang perpustakaan. Namun peran yang dimainkan belum terlampau maksimal sebagaimana menjadi pustakawan yang sebenarnya. Padahal potensi buku bacaan di SIJB sudah semakin banyak jumlahnya. Sementara itu kuantiti penikmat buku juga sangat besar. Siswa hanya perlu difasilitasi untuk menumbuhkembangkan minat baca mereka.

Ada kerja dibalik antusias. Sekiranya kita perlu sadar lebih dini. Sekolah dan siswa tidak akan jauh dari kegiatan belajar. Belajar di sini tidak harus selalu proses transfer ilmu di dalam kelas. Menyebarkan virus literasi merupakan ihwal lain dari belajar. Siswa adalah makhluk yang cepat bosan jika hal-hal yang diberikan bersifat monoton. Orang dewasa pun jika menjalani rutinitas harian yang sama akan melakukan pemberontakan keadaan. Maka baiknya diadakan varian lebih. Sehingga tidak muncul kejenuhan yang menjalar.

Hal positif harus selalu disebar, bagaimana pun caranya. Buku adalah sumber pengetahuan yang tak akan pernah ada ujungnya. Banyak kebaikan yang terkandung di dalamnya. Itu sebabnya semboyan “Buku adalah jendela dunia” adalah hal yang selalu benar. Selalu dibutuhkan orang-orang yang senantiasa bekerja untuk perubahan dan meminimalkan imbalan.

Melihat kondisi buku yang semakin menumpuk di SIJB dan minat baca para siswa yang semakin tinggi. Saya pun menginisiasi dengan menyediakan ruang baca. Keterbatasan tempat bukanlah perkara sulit untuk dirobohkan. Saya memanfaatkan ketersediaan ruang dengan seadanya. Karena saya adalah wali kelas lima, maka saya membangun sudut baca di kelas saya. 3 buah rak buku hasil sumbangan orangtua dan 200-san koleksi buku yang juga hasil dari pemberian. Semua itu menjadi modal saya membangun komoditas membaca di SIJB.

Siswa SD dan SMP hampir selalu masuk di kelas saya pada jam-jam di luar pembelajaran. Mereka sering membaca di tempat atau meminjam buku untuk dibawa pulang. Karena tak bisa melayani sendiri maka saya pun membuat petugas perpustakaan yang seluruh penggeraknya adalah anak wali saya. Setiap saya mampu mengontrol mereka. Sejauh ini mereka sudah bekerja dengan baik. Sudah tahu proses mencatat peminjaman dan pengembalian buku. Saya tak ragu lagi ketika tak selalu harus menaruh awas pada mereka. Mereka tahu memposisikan diri sebagai objek yang diberi tanggung jawab. Saya senang melihat mereka bekerja.

Buku adalah magnet antusias. Sekali tertarik. Semua mata akan tertuju. Pengalaman membaca senantiasa menstimulasi seseorang untuk berimajinasi lebih luas. Kematangan berpikir seseorang ditumbuhkan oleh rutinitas membaca. Maka dari itu mengapa kita tidak ikut terlibat aktif menyebarluaskan virus membaca. Selagi ada ruang dan peminat kenapa tidak.

SIJB sedang berusaha tumbuh menjadi ruang baca yang serius. Partisipasi orang-orang sangat dibutuhkan untuk mewujudkan pemandangan di mana setiap sudut sekolah adalah ruang baca. Jumlah buku yang semakin banyak. Membaca adalah sebuah periode di mana manusia bisa belajar untuk naik kelas jauh lebih baik dan berpikir lebih jernih.

buku 1.jpeg

Ruang Baca di Kelas V

buku 2.jpeg

Menikmati bacaan di depan kelas