SEJARAH BERDIRINYA SIJB

Lekat
Hari ini suatu kehormatan bagi SIJB dan terlebih-lebih bagi saya. Kami kedatangan Bapak Djujur S.H Hutagalung. Pencetus ide keberadaan SIJB. Pejuang ulung agar SIJB harus berdiri. Mungkin tanpa kehadiran beliau di KJRI Johor Bahru, gedung belajar bagi anak Indonesia itu tak pernah ada.
Beliau datang menggunakan van sekolah yang dikemudikan oleh pak Ichsan. Pak Djujur datang bersama istri tercinta. Beliau ke Johor Bahru untuk beberapa keperluan. Ke Johor Bahru tanpa berkunjung ke KJRI dan SIJB terasa ada yang kurang.
Sembari bernostalgia, beliau akhirnya bercerita panjang proses berdirinya SIJB. Saya pun berterima kasih pada pak Irman yang mau memancing beliau untuk bernapak tilas.
Pada tahun 2010 pak Djujur mendapat mandat dari Kemenlu untuk bertugas sebagai Fungsi Pensosbud (Penalaran sosial budaya) di KBRI Kuala Lumpur. Tapi akibat suatu dan lain hal beliau akhirnya tak jadi bertugas di sana. Melainkan harus ke KJRI Johor Bahru dengan posisi yang sama sebagai Pensosbud. Basically, Pak Djujur adalah akademisi. Beliau adalah seorang Dosen. Seluk beluk pendidikan telah mandarah daging di tubuhnya. Sebab itu perjuangan hidupnya tak pernah lepas dari dunia kependidikan. Prestasi hebat lainnya dari beliau adalah pernah menjabat menjadi kepala sekolah SIN (Sekolah Indonesia Netherland). Selain itu di Indonesia tak kalah cemerlangnya prestasi beliau. Sudah puluhan sekolah yang telah beliau bangun berkat usahanya melobi sana sini sehingga ada pihak-pihak yang tergerak merealisasikan mimpinya. Yogjakarta, Kabupaten Solok (Sumatra Barat), hingga ke Pulau Nias di Sumatra Utara. Semua dirintisnya.
Setelah menjabat menjadi Pensosbud di KJRI Johor Bahru beliau pun akhirnya menanamkan mimpi. Di Johor Bahru harus ada sekolah untuk anak-anak Indonesia yang kurang beruntung karena tak memiliki akses untuk bersekolah di sekolah lokal. Dalam kata lain anak-anak tersebut tak berdokumen dan merupakan anak-anak dari para imigran pekerja Indonesia di Johor Bahru. Sebagian besar mereka bekerja di sektor perladangan, kilang, manufaktur, atau sebagai pekerja rumah tangga.
Di tahun 2011 beliu turun rembuk ke Pimpinan (Dubes KL) untuk meminta ijin mendirikan suatu lembaga pendidikan untuk memfasilitasi anak-anak Indonesia dalam belajar. Namun terjadi penolakan. Ide tersebut dianggap gila dan mengada-ada.
“SIKL saja yang sekolahnya legal, itu bermasalah. Apa lagi kamu yang ingin mendirikan di Johor Bahru. Jangan buat yang macam-macam.” Dubes ketika itu menegaskan.
Tapi pak Djujur tak mengenal kata menyerah. Yang ingin dikerjakannya bukanlah suatu hal yang melanggar hukum. Beliau akhirnya meneruskan apa yang telah menjadi niatnya tersebut. Beliau melakukan ini bukan untuk mencari nama. Beliau hanya menjalankan amanah yang telah Kemenlu berikan pada beliau. Buatlah pembaharuan di Johor Bahru.
Pada 2012, akhirnya Konjen Johor Bahru yang saat itu menjabat akhirnya memberi kesempatan kepada pak Djujur untuk merealisasikan berdirinya sebuah komunitas belajar. Ketika itu Pensosbud (dalam hal ini adalah area kerja pak Djujur) hanya memperoleh dana sebesar 240 juta. Sangat minim. Mau tidak mau karena sudah bertekad besar akhirnya beliau pun memakai anggaran pribadinya untuk membangun komunitas belajar di Johor Bahru sebagai penambal anggaran yang minim tersebut.
2013, tekad itu semakin besar. Pak Djujur pun berangkat ke Jakarta untuk menghadap ke Kemenlu untuk memohon dana bantuan tambahan agar sekolah bisa berdiri dengan segera. Tapi tak semudah terbayangkan. Pihak Kemenlu menolak. Sebab anggaran untuk ke sana tak ada. Tak menyerah sampai di situ, pak Djujur mengalihkan lobinya ke Kemendikbud. Departemen yang lebih powerful untuk urusan pendidikan.
Di suatu waktu pak Djujur bertemu dengan Bapak Moh.Nuh (Mendikbud saat itu) untuk meminta ijin pendirian sekolah di Johor Bahru. Tanpa rembuk yang panjang pada akhirnya bapak Moh.Nuh mengabulkan permintaan pak Djujur membangun sebuah sekolah di Johor Bahru. Tapi dengan syarat SIJB tidak berdiri sendiri tapi harus menginduk ke SIKL. Pun SIJB tak boleh memakai nama SIJB sebagai penamaan resmi sebab statusnya hanya sebagai pusat komunitas belajar yang dikenal sebagai ICC (Indonesia Community Center). Tapi aktifitas yang berjalan di dalamnya tetap nuansa sekolah. Tak masalah bagi pak Djujur. Terpenting adalah anak-anak Indonesia bisa terfasilitasi dalam belajar.
Namun pada saat itu Pak Moh.Nuh tak bisa mengambil keputusan secara sepihak. Beliau pun harus seiya sekata dengan Dirjen terkait dan Wamendikbud.
“Jika pak Wamen setuju maka sekolah di Johor Bahru bisa kita bangun.” Kata Pak Moh.Nuh ketika itu.
Tak membuang tempo pak Djujur segera menuju ke Kantor Wamendikbud. Tapi ternyata beliau tak ada di tempat. Ia sudah ada di bandara. 2 jam lagi pesawat beliau akan take off. Orang-orang yang bersama pak Djujur ketika itu menyarankan untuk mengejar pak Wamen ke bandara. Ini persoalan besar harus segera diputuskan. Beliau pun menuju ke bandara Soekarno-Hatta.
Pak Djujur pun berhasil menemui pak Wamen. Beliau menjelaskan maksud kedatangannya menemui pak Wamen di last minute seperti itu. “Pak Djujur saya salut. Sebelum pak Djujur purna tugas di Johor Bahru, inshaa Allah sekolah itu sudah berdiri.” Bonus lain yang didapatkan oleh pak Djujur dari lobi membahagiakan itu adalah pendirian PAUD. Bisa dikatakan the power of teman bekerja baik di sini. Kebetulan Dirjen PAUD ketika itu adalah kawan baik dari pak Djujur.
Peresmian PAUD Cahaya (Nama PAUD JB) dilaksanakan pada tanggal 1 Oktober 2013. Diresmikan oleh Ibu Anisa selaku ketua DWP (Dharma Wanita Persatuan) dan Bapak Taufiqur Rija (Konjen RI Johor Bahru saat itu). Sementara sekolah untuk tingkat SD dan SMP di resmikan pada tanggal 5 Januari 2014 dengan nama awal SIT (Sekolah Indonesia Terbuka) oleh Prof. Rusdi (Atdikbud Kuala Lumpur periode 2011-2014), Bapak Taufiqur Rijal, Bapak Djujur S.H Hutagalung.Kemudian berubah menjadi SIJB pada tanggal 5 Januari 2015 yang diresmikan langsung oleh Prof. Ari Purbayanto (Atdikbud Kuala Lumpur periode Desember 2014 – hingga saat ini). Perubahan nama ini merujuk kepada aturan yang telah dibuat oleh Kemenlu, bahwa setiap sekolah Indonesia yang berada di luar negeri harus bernama dengan basis letak kota di mana sekolah itu didirikan.
Segelumit perjalanan yang terjal mewarnai peta perjalanan SIJB hingga bisa menjadi seperti sekarang. Orang-orang yang terdahulu menentang atau bahkan pesimis akan hal ide gila pak Djujur ini, sekarang bisa kembali bersatu frekuensi mendukung eksistensi SIJB dalam pemenuhan hak-hak anak bangsa dalam mendapatkan fasilitas pendidikan.
20170313_150110.jpg

Pak Djujur (kemeja Pink)

20170313_150730.jpg

Pak Irman memberikan penjelasan perkembangan sekolah

Iklan

WELEM

Lekat

2013, ketika itu saya masih bertugas sebagai Guru SM-3T di salah satu sekolah yang terletak  di kabupaten Raja Ampat. Setahun. Terbilang singkat  untuk memahami dinamika pendidikan di daerah pelosok secara utuh. Tapi bukan berarti sensasi pengabdian tak saya dapatkan. Di sana saya menemukan berupa-rupa pelajaran hidup.

***
Saat itu saya bertemu dengan sosok siswa bernama Welem. Tubuhnya kecil. Mengingatkan saya pada Daus Mini. Kulitnya hitam khas orang-orang Papua. Rambutnya keriting.
Jika ingatan saya masih tepat. Ia tak pernah absen setiap kali saya masuk mengajar di kelasnya. Kala itu ia duduk di kelas VII SMP. Saat ini, jika terus bersekolah, ia sudah SMA.
Dia duduk di bangku paling depan. Tepat di hadapan meja Guru.

20130923_075610.jpg

Welem dengan senyum manisnya

Di dalam kelas ia tak banyak bicara. Ia selalu turut pada instruksi yang keluar dari mulut saya. Ia tak pintar. Bicara konteks intelektual siswa-siswa di pedalaman Papua memang memprihatinkan. Sebab pengajaran bukan di mulai ketika bel masuk berbunyi. Tapi saat menyadarkan mereka untuk mau datang ke sekolah. Di beberapa kasus -saya belum pernah mengalaminya- teman-teman saya yang mengabdi di lokasi lain mesti menjemput siswa door to door agar mau datang ke sekolah. Menurut saya, siswa yang pintar di antara mereka adalah yang mampu membaca dengan baik dan benar. Disertai kemampuan menulis yang baik pula. Bukan mereka yang kritis di dalam kelas atau mereka yang mampu menjawab setiap pertanyaan yang disajikan. Saya menemukan masih banyak yang belum bisa keduanya. Termasuk mereka yang duduk di bangku SMA.

***

Kembali ke Welem.
Kami tak banyak berinteraksi. Alasannya itu tadi. Ia cenderung pendiam. Bersama teman-temannya pun ia terlihat berperilaku sama.
Suatu istrahat sekolah, saya yang masih memeriksa tugas-tugas siswa memperhatikan Welem yang memilih duduk di bangkunya. Sepertinya jam istrahat bukan sesuatu yg spesial baginya.
“Ko tra keluar?” Tanya saya memecah diamnya.
“Tra ada pak Guru. Tong di dalam kelas saja.” Sambil ia menggeleng beberapa kali.
Kami berdua diam.
Saya belum puas. Ini momen langkah. Jarang saya berinteraksi dengannya. Sebab di dalam kelas setiap ajuan pertanyaan saya selalu direspon olehnya dengan sikap diam.
“Sudah makan?”
Ia menggeleng lagi.
Pertanyaan yang masih membuatnya hemat kata.
“Kau suka sekolah?” Seketika kepalanya terangkat.
“Suka pak Guru.” Ia mulai terpancing.
“Kenapa?”
“Karena saya mau jadi anggota DPR.” Suaranya begitu semangat. Saya mulai tertarik.
“Kau tau apa itu anggota DPR?”
“Tau pak Guru.”
“Apa?”
“Dorang yang biasa datang bagi-bagi beras, sabun, indomie, dan baju.”
“Untuk apa?”
“Sa pu mace bilang supaya dorang ditusuk saat pemilu.”
“Jadi kau mau seperti dia?”
Welem hanya mengangguk.
“Kau tak mau jadi polisi atau guru kah?”
“Tak mau pak Guru. Anggota DPR saja.”
****
Sampai di sini saya paham. Siswa sebenarnya butuh seorang figure inspiratif yang mampu memicu sumbu keinginan mereka untuk menjadi seseorang yang berguna di masa depan. Mudah bagi siswa yang bersekolah di kota-kota besar untuk mengakses informasi. Manakah tokoh yang bisa mereka idolakan dan bisa mereka jadikan sebagai sosok panutan.
Sementara di daerah pelosok yang listrik saja adalah suatu barang mewah dan internet masih menjadi benda asing yang berada jauh di luar nalar mereka. Di luar sana semua telah termodernisasi. Sementara mereka masih hidup di era usaha memanusiakan manusia.
Welem salah satu contoh manusia pelosok yang secara tidak langsung meminta diperlakukan sebagai manusia utuh. Meminta agar diberikan hak mengenyam pendidikan.

***

Janganlah cuma menjadi orang yang sukses, tapi jadilah manusia yang mempunyai nilai.  -Anis Baswedan-

20130924_064815

Bayangkan jika mereka tak memiliki Guru. Bangsa ini akan kehilangan banyak calon penerus

SETAHUN DI JOHOR BAHRU

Standar

Pada akhirnya rentan 12 bulan lebih 2 minggu telah saya lewati dengan kehidupan Kota Johor Bahru dan segala kejutan-kejutannya.

Apakah selama di Johor kehiduapan saya menyenangkan?

Jawabannya tidak, itu karena yang saya rasakan adalah menyenangkan sekali.

Sebagian besar waktu saya memang habis dengan urusan sekolah. Mengajar di kelas, membina pramuka, melatih ekskul futsal, atau beberapa kegiatan yang diadakan oleh KJRI. Jika ada waktu luang atau katakanlah libur yang sedikit panjang saya memakainya untuk mengeksplore tempat-tempat baru di sepanjang semenanjung Malaysia ini. Sementara rekor terjauh saya adalah Pulau Langkawi. Perjalanan hampir 24 jam menuggunakan bus dan kapal feri.

Hidup adalah kelokan-kelokan tajam. Kita tak pernah tahu akan berpapasan dengan kendaraan jenis apa.

Johor Bahru bagi saya adalah kota yang tumbuh tanpa harus menjadi berantakan. Pohon beton ada di mana-mana. Menjulang dan di dalamnya mengalir kapitalisme yang selalu merasa lapar. Tata kota rapi moderinitas tetap terjaga. Layaknya seperti kota besar lainnya kaum marjinal tetap terpinggirkan. Mereka ada, mereka terlihat namun di sisi lain mereka dianggap tidak ada, seperti tidak dilihat.

Johor Bahru bukanlah kota nakal yang berisik karena makian atau suara klakson yang membumbung ke udara. Macet tetap ada tapi tak separah apa yang Kuala Lumpur punya atau seperti Jakarta yang menjadikan macet adalah sarapan pagi, makan siang, cemilan sore, dan makanan penutup saat malam hari. Bahkan Makassar yang menjadi tempat asal saya jauh lebih kasar dan tidak aman bagi pengendara di jalanan.

Saya tak mau membahas pekerjaan saya lebih jauh di sini. Saya adalah guru. Keseharian saya adalah berinteraksi dengan sekolah dan perangkatnya. Seperti murid-murid, pelajaran, dan teman sejawat. Tak jauh berbeda dengan guru-guru lain. Yang ingin saya garis bawahi adalah proses menemukan saudara-saudara baru di sini. Seperti saat setahun saya mengabdi di Raja Ampat dulu atau setahun di asrama PPG, saya menemukan teman-teman yang tak bisa saya sebut teman lagi. Tapi saudara.

Rekan-rekan guru di sekolah adalah sudara saya di sini. Meski mengenal mereka baru setahun ini namun pertalian kami bukan sekadar teman lagi. Tapi keluarga. Ke manakah saya mengadu jika saya mengalami kesulitan atau membutuhkan bantuan jika bukan pada keluarga saya. Dan siapa yang akan menolong pertama kali jika bukan mereka.

Bagi saya keluarga bukanlah ketika lahir di rahim yang sama atau sebagai satu aliran darah dari kakek dan nenek buyut yang sama. Tapi keluarga adalah penerimaan tanpa syarat meski kita dalam kedaan sedih maupun senang gembira.

Belajarlah seperi Johor Bahru. Ia menerima dengan lapang orang-orang yang datang mencari kehidupan di dalamnya. India, Pakistan, Indonesia, Cina semua adalah keberagaman. Jangan menjadikan perbedaan sebagai alasan menolak kehidupan.

Setidaknya saya memiliki waktu 12 bulan lagi, jika tidak mungkin lebih, untuk menikmati langit Johor dan hal-hal yang menyenangkan lain di dalamnya. Dan saya percaya Tuhan masih mempercayakan saya  untuk bertanggung jawab mendidik anak-anak TKI itu dan saya bisa banyak belajar lagi ilmu kehidupan di masa pengabdian yang sebenarnya cukup singkat ini.

Harapan saya tidak terlalu muluk-muluk sebagai manusia. Saya hanya ingin bermanfaat bagi kehidupan. Saya ingin hubungan horizontal dan vertical saya bisa seimbang. Kedamaian yang saya idam-idamkan bisa terwujud dari pergerakan kebaikan yang selalu menyertai.

Johor Bahru, 2017

WhatsApp Image 2017-10-16 at 11.01.55kk.jpeg

Johor dari perspektif menyenangkan

WhatsApp Image 2017-10-16 at 11.01.55jj.jpeg

Menjadi Johorian

DIEGO ARMANDO

Standar

Selama di Kofiau, saya dan Kahar dekat dengan beberapa siswa. Bukan karena pilih kasih atau alasan yang khusus. Ini semata karena siswa-siswa tersebut sering berkunjung ke tempat kami tinggal di luar jam sekolah tanpa kami minta. Di daerah tertinggal seperti Kofiau, kehadiran guru seperti menunggu datangnya lebaran. Lama dan melelahkan. Karenanya ketika mereka kedatangan guru baru, momen tersebut tak boleh disia-siakan. Sekadar mencari perhatian atau mencuri ilmu yang dibawanya. Kedatangan orang baru adalah anugerah. Sama halnya ketika membaca sebuah buku bagus yang di dalamnya adalah ketakterdugaan yang menyenangkan.

Herianto, Linus, Lono, Pedro, Roy, dan Arman adalah di antaranya yang selalu berkunjung. Untuk nama terakhir mungkin salah satu yang paling membekas di kepala saya meski 3 tahun telah meninggalkan Kofiau.
Nama lengkapnya Diego Armando. Entah ada hubungannya dengan Dewa sepakbola Argentina, Diego Armando Maradona, saya tidak tahu. Tak pernah saya menggali lebih dalam.

Arman tinggal hanya berjarak 15 meter dari pagar sekolah. Dia tinggal bersama Bapak piara (Bapak angkat) yang sering saya dan Kahar panggil dengan nama Om Selayar. Kami tak tahu nama aslinya. Dari cerita beliau, dia lahir di Kabupaten Selayar, Sulawesi Selatan, kemudian nomaden ke beberapa tempat di bagian Indonesia timur sebagai pemburu mutiara dengan cara tradisional. Pada akhirnya menetap di Kofiau karena ia mengalami kecelakaan laut akibat aktifitasnya yang menyelam tidak memenuhi standar penyelaman yang benar. Saat berjalan dia sudah pincang. Om Selayar pun kini sudah menikah dengan warga kampung setempat. Sesekali saya dan Kahar sedikit bernostalgia dengan Om Selayar mengenai masa kecilnya yang menyenangkan di Selayar.

Ketika itu (2014) Arman duduk di kelas X. Murid yang rajin. Badannya kekar seperti petinju. Selalu tersenyum. Ada satu hal yang membuat saya merasa kagum dengan Arman. Dia senang dengan pelajaran Bahasa Inggris. Itu sebabnya dia adalah satu-satunya siswa yang memiliki kamus bahasa Inggris di sekolah. Meski sudah usang, dia selalu membawanya ke mana-mana.

“Saya ingin jadi pemandau wisata, Pak Guru.” Katanya suatu hari saat kutanya tentang cita-citanya. Saya hanya mengaminkan untuk hal yang satu itu.

Arman merupakan salah satu pemasok kayu bakar buat saya dan Kahar. Ya, kami masih menggunakan cara tradisional untuk memasak. Meski tetap ada kompor minyak tanah. Kami harus berhemat. Minyak tanah sangat langka di Kofiau. Kami membeli minyak tanah ketika di Sorong. Jaraknya dari Kofiau hampir 24 jam menggunakan kapal laut. Selain kayu bakar, Arman juga sering membawa ikan hasil buruannya di laut ke rumah. Atau sesekali membawa buah kelapa untuk saya dan Kahar.

Jika lancar, seharusnya Diego Armando bukan lagi seorang murid SMA. Entah sekarang ia memburu mimpinya dengan berkuliah atau bekerja di kota, saya tak tahu. Atau jangan-jangan ia masih terkurung di pulau kecil di Kofiau sana dengan mengikuti arus kehidupan di sana yang memenuhi urusan perut dengan menangkap hasil laut atau berkebun atau menjadi petani kopra. Entahlah, saya hanya berharap Arman mampu menjalani mimpinya untuk menjadi seorang tourguide.

Johor Bahru, 2017

PULAU LANGKAWI

Standar

Periode Juli hingga Desember saya sudah membuat daftar kunjung 3 tempat berbeda yang berada di 3 negara yang berbeda pula. Pertama adalah adalah Singapura. Tempat pertama ini sudah saya khatamkan 3 minggu lalu. Tempat kedua adalah Phuket yang berada di Thailand dan yang terakhir adalah Langkawi yang ada di Kuala Perlis, Malaysia.

Libur lebaran selama 3 hari benar-benar saya manfaatkan dengan seksama, meski dengan tempo yang sangat singkat. Menuju Phuket adalah risiko. Saya tak ingin berjudi waktu. Paling tidak saya harus memiliki waktu 5 hari untuk bisa menikmati apa yang ada di sana. Terkecuali moda transportasi yang ingin saya gunakan adalah pesawat, maka 3 hari sudah lebih dari cukup. Tapi melakukan perjalanan ke tempat-tempat baru bagi saya adalah sebuah pembelajaran. Dan pelajaran yang akan saya dapatkan jauh lebih banyak jika menggunakan bus untuk mencapai destinasi. Karena mengandalkan bus sebagai tumpangan utama, maka Phuket tidak saya jadikan tujuan pada ngetrip kali ini. Langkawi jauh lebih realistis.

Modal utama saya melakukan trip sendirian ke Langkawi adalah sedikit kenekatan. Langkawi adalah sebuah pulau besar yang terletak di negeri Perlis. Negeri Perlis beribukota Kangar yang berbatasan langsung dengan Thailand selatan. Pulau Langkawi merupakan daya tarik paling utama bagi banyak orang yang berkunjung di negeri paling kecil di Malaysia itu.

Saya senang bepergian sendiri. Aturan yang saya buat hanya berlaku untuk saya sendiri dan bisa saya langgar semau-mau saya. Setiap kali melakukan trip saya selalu menyusun agenda yang cukup detail. Mulai jam keberangkatan, tempat-tempat apa saja yang mesti saya kunjungi dengan efisiensi waktu yang tepat guna, dan kapan harus pulang. Namun rencana matang adalah yang dipatuhi bukan yang ditabrak tidak karuan.

Setiap perjalanan selalu berpasangan dengan beragam risiko dan saya paham betul akan hal itu. Namun jika hanya memikirkan persoalan takut, saya tak akan pernah kemana-mana.

Jadwal yang telah saya rencanakan mengharuskan saya sudah harus meninggalkan kota Johor Bahru setelah salat Jumat atau paling lambat sebelum masuk magrib. Agar saya bisa tiba di Terminal Bersepadu Selatan (TBS) Kuala Lumpur sebelum pukul 11 malam. Sebab bus terakhir yang akan menuju Kuala Perlis ada pada pukul 12 malam. Pada akhirnya semua berantakan karena ulah saya sendiri. Saya baru meninggalkan Johor Bahru dari terminal Larkin menuju TBS pada pukul 09.45 malam. Luar biasa karetnya.

Konsikuensi atas kecerobohan itu membuat saya harus lapang dada menerima segala kemungkinan. Termasuk tiba di Langkawi tidak sesuai jadwal yang telah saya susun.

Bus yang membawa saya tiba pada pukul 1.30 dini hari. Suasana TBS masih lumayan ramai. Banyak calon penumpang yang bertebaran tidur di lantai atau kursi tempat menunggu. Saya langsung berlari menuju konter pembelian tiket. Pada akhirnya saya harus menerima kenyataan jika bus yang paling cepat berangkat ke Kuala Perlis adanya jam 9.45 pagi. Kepalan tanggung saya tak mau mundur lagi. Sudah sejauh ini. Saya memilih tidur di salah satu bangku yang tersisa. Meski nggak nyaman karena dingin banget, tetap saya paksakan. Besok saya butuh banyak tenaga untuk perjalanan yang panjang.

Jika sesuai jadwal, maka durasi perjalanan akan memakan waktu hingga 6 jam. Kalau hitung-hitungannya tepat saya akan tiba di Kuala Perlis pada pukul 4 atau 5 sore dan saya bisa naik feri terakhir menuju Langkawi.

Bus bergerak dari TBS sesuai jadwal yang tertera di tiket. Saya berharap banyak tak ada hal-hal yang membuat perjalanan ini molor. Di luar prediksi ternyata bus banyak berhenti di rest area. Sekitar 5 kali bus berhenti untuk beristrahat. Saya pun harus menerima kenyataan tiba di terminal Kangar pada pukul 6 sore. Sementara feri terakhir menuju ke Langkawi satu jam lagi. Menuju pelabuhan pun harus naik bus dalam kota lagi yang memakan waktu 20-30 menit. Sialnya bus yang menuju pelabuhan Kuala Perlis adanya jam 8 malam. Pilihannya cuma satu, berangkat besok subuh ke Langkawi.

Pukul 8 malam saya naik bus nomor T12 dari Kangar menuju ke terminal lebih kecil di Kuala Perlis. Secara kebetulan jarak terminal tersebut hanya 100 meter dari pelabuhan. Cukup beruntug. Terlebih lagi di depan pelabuhan ada banyak penginapan ala backpacker yang berjejer. Saya menginap di sana dengan budget cukup minimalis. Isinya tidak mewah. Yang penting ada tempat tidur dan kamar mandi itu sudah lebih dari cukup.

Jadwal pemberangkatan kapal pertama ke pelabuhan Jetty, Langkawi, adalah pukul 7 pagi. 15 menit sebelum pukul 7 saya sudah checkout. Saya berlari kecil menuju pelabuhan yang hanya berjarak sepelemparan batu. Di loket tiket tak perlu antri. 18 rm harga ringgit saya tebus dengan segera. Kemudian ikut di barisan antrian orang-orang yang akan masuk ke dalam lambung kapal.

Praktis perjalanan hanya memakan waktu 45 menit. Tiba di Jetty saya langsung mengambil peta wisata yang terletak di pusat informasi. Saya tak punya banyak waktu. Paling tidak saya sudah harus meninggalkan Langkawi pada pukul 3 sore dan mengejar bus menuju Johor Bahru sebelum pukul 8 malam.

Tempat pertama yang saya kunjungi adalah Dataran Lang. Di sana terdapat Patung Elang yang berukuran raksasa yang menjadi ikon Langkawi. Letaknya bersebelahan dengan Pelabuhan Jetty. Setidaknya ada 6 list tempat yang sudah saya wanti-wanti untuk saya kunjungi.

Tepat di hadapan Patung Elang terhampar laut biru milik Langkawi. Beberapa boat hilir mudik di atas laut yang tenang. Langit biru yang cantik. Matahari yang mulai terik. Perihal ciptaan, Tuhan adalah kreator paling tiada tandingannya.

Berjarak 100-an meter saya berjalan ke arah Langkawi Legend Park di sebelah selatan dari Dataran Lang. Taman Legenda Langkawi adalah miniatur dari Pulau Langkawi. Di dalamnya terdapat beberapa patung yang menceritakan kisah-kisah tentang proses terbentuknya Langkawi. Semacam Tangkuban Perahu atau Danau Toba di Indonesia. Di dalamnya banyak ditumbuhi pohon yang begitu rindang. Apalagi lokasinya bersebelahan dengan pantai.

Puas mengitari Taman Legenda Langkawi saya menyusur pantai. Seperti biasa, pantai yang pertama kali saya kunjungi selalu saya ambil pasirnya, memasukkan di dalam botol dan saya bawa pulang. Harapannya sih, suatu saat saya akan kembali lagi ke tempat itu. Semoga.

Berjalan sekitar 30 meter dari arah pantai saya menuju sebuah gedung bertingkat 2. Di halaman belakangnya cukup ramai. Saya mendekat dan ternyata itu adalah tempat registrasi untuk trip 3 spot keren yang tidak jauh dari pelabuhan Jetty.

Perkiraan saya trip ke pulau-pulau akan memakan biaya yang cukup mahal. Pengalaman di Raja Ampat. Wisata air selalu memakan budget yang tidak sedikit. Saya hanya membayar 35 rm. Di atas kapal ada 11 penumpang lain dan 1 orang motorist.

Trip yang ditawarkan mengunjungi 3 lokasi yang tidak terlalu berjauhan. Di spot pertama adalah Pulau Beras Basah. Spot yang ciamik untuk berenang. Bule-bule dari Eropa dan turis dari Cina mendominasi pemandangan di permukaan air. Sejam di sana, boat bergerak ke spot Eagle Feeding. Di sana dari atas perahu kita akan menyaksikan seratusan Elang yang sedang berburu makanan berupa ikan-ikan kecil. 20 menit di sana boat bergeser ke Dayang Bunting Marble Geoforest park. Tempatnya jauh lebih sejuk perpaduan laut, pulau, dan hutan yang lebat. Saya merasa seperti berada di Fafanlap, Yellu, Batanta, atau Gamta ketika di Raja Ampat dulu. Sebab hujan yang turun begitu deras di spot kali ini agak lama.

Boat bergerak sekitar pukul setengah 2 menuju titik mula berangkat tadi pagi. Saya mengejar kapal menuju ke Kuala Perlis yang jam 3. Masih ada sejam lebih. Karena sudah terlanjur basah akibat perjalanan pulang tadi beberapa kali terkena tempias air. Saya menuju masjid yang letaknya tak seberapa jauh. Mandi dan berganti baju di sana. 20 menit sebelum pukul 3 saya sudah mengarah lagi ke Jetty. Beruntung saya masih memiliki waktu 5 menit sebelum keberangkat jadi sempat beli tiket pulang.

Tiba di Kuala Perlis saya tak membuang banyak waktu. Mengisi perut sebentar dan langsung menuju ke terminal Kangar menumpang bus T12.

Badan sudah remuk masalah tak berhenti menghampiri. Tiket ke Johor Bahru telah ludes hingga hari selasa. Pun bus keberangkatan menuju TBS. Saya memutar otak, alternatif yang muncul di kepala saya adalah menuju Perak. Di sana saya akan menyambung lagi menuju TBS. Tapi nihil. Tiket tak tersedia sama sekali. Saya tidak memprediksi kalau ini adalah libur panjang. Tentu saja tiket-tiket kepulangan sudah sold out.

Tak mungkin saya pulang di hari selasa. Besok saya harus masuk sekolah. Jika tak berantakan seperti ini seharusnya saya sudah harus berada di Johor saat subuh. Hampir kehilangan harapan, tiba-tiba seorang perempuan mengembalikan tiket yang sudah dibelinya. Beruntungnya tiket tersebut adalah tiket menuju terminal Larkin di Johor Bahru. Selamat saya.

Tapi pada akhirnya saya tetap berada dalam persimpangan kekhawatiran. Bus yang saya tumpangi tiba di Larkin pukul 12 siang dan saya tetap tak masuk ke sekolah.

Perjalanan selalu bukan tentang seberapa jauh atau menghamburkan isi kantong. Saya bukan orang yang memiliki banyak uang. Tapi saya membiayai sebuah perjalanan dengan menabung. Dengan begitu semua tak akan pernah terasa. Di dalam perjalanan itu saya sering kali menemukan hal-hal yang tak terduga. Dari situ saya belajar ilmu kehidupan.

P_20170903_082212.jpg

P_20170903_082638.jpg

Dataran Lang

P_20170903_095823.jpg

On boat to first spot

P_20170903_101309.jpg

P_20170903_130105.jpg

MENDUKUNG TIMNAS INDONESIA HINGGA KE SHAH ALAM

Standar

“Unity in Diversity”

Aremania, Bonek, Pasoepati, Bobotoh, hingga The Macz Man menanggalkan identitas mereka sebagai pencinta klub-klub sepakbola kegemaran di tanah air. Mereka semua menjadi satu sebagai Pendukung Timnas Indonesia yang berlaga di Seagames ke-39 di Kuala Lumpur Malaysia.

Secara kebetulan saat ini saya tinggal dan bekerja di Johor Bahru, Malaysia. Sementara arena pertandingan semifinal antara tuan rumah Malaysia melawan Indonesia berada di Shah Alam Stadium, Selangor. Sekitar 4 jam perjalanan menggunakan bus.

Ini laga emosional. Sebelumnya sudah banyak intrik yang melibatkan kedua negara dalam perhelatan seagames ini. Mulai dari pemasangan bendera Indonesia yang terbalik di buku panduan saat pembukaan. Hingga aksi WO oleh atlet Sepak Takraw kita yang merasa dicurangi oleh wasit. Bisa jadi pertandingan semifinal ini menjadi klimaksnya. Adu gengsi, adu harga diri.

Beberapa guru SIJB, Mahasiswa PPL UMY, dan beberapa lokal staff KJRI Johor Bahru berangkat menuju ke Selangor. Rencana untuk berangkat nonton langsung di dalam stadion sudah kami wacanakan sejak Indonesia menang di laga terakhir melawan Kamboja. Sebab laga semifinal dilaksanakan pada hari sabtu yang di mana bertepatan hari cuti libur kami.

Pihak Kedubes Kuala Lumpur juga menyediakan 3000 tiket gratis buat para warga Indonesia yang ingin menyaksikan secara langsung pertandingan di stadion. Sementara kami dari pihak KJRI Johor Bahru mendapatkan 28 tiket. Bus yang kami tumpangi pun adalah sponsor dari kepala Kanselerai KJRI Johor Bahru. Yang perlu kami siapkan adalah semangat yang berapi-api untuk mendukung timnas.

Pukul 12 bus meninggalkan kota Johor Bahru menuju Selangor. Sepanjang perjalanan saya gunakan untuk tidur. Sejak jumat kemarin hingga pukul 11 tadi malam SIJB mengadakan kegiatan LDKS yang tentu saja memeras tenaga. Bus tiba di Shah Alam Stadium pukul 17.30.

Pak Kosim yang bertugas mengambil tiket di Kedubes Kuala Lumpur sudah menunggu kami. Tiket sudah dibagikan, atribut supporter juga sudah saya beli. Pukul setengah tujuh gate masuk ke dalam stadion sudah dibuka. Ribuan pendukung timnas berbondong-bondong masuk ke dalam stadion.

Suasana di dalam stadion Shah Alam begitu padat. 70% tempat duduk dikuasai oleh para pendukung Malaysia. Tapi tidak membuat para pendukung Indonesia surut. Semangat tetap ditunjukkan untuk mendukung.

Kick off dimulai pada pukul 20.45. Pertandingan berjalan cukup berimbang. Serangan-serangan belum mampu membuat skor berubah hingga memasuki babak kedua. Petaka terjadi menjelang pertandingan berakhir. Melalui sepak pojok Thanabalan Nadarajah mampu memaksimalkan peluang untuk menjadi gol. Gol tersebut sekaligus memupus mimpi Timnas Indonesia untuk menjadi juara seagames cabang olahraga Sepak bola ini.

Selain insiden petasan yang dilempar oleh pendukung Malaysia ke arah pemain kita Ryuji Utomo yang sedang melakukan pemanasan. Tak ada kejadian lain yang membuat suasana menjadi tegang.

Kami harus pulang dengan kepala tertunduk tapi tidak untuk menyesal. Jauh-jauh dari Johor ke Selangor, kami benar-benar datang untuk mendukung. Kalah atau menang hanyalah perkara lain yang tak mampu melunturkan semangat kami untuk tetap mendukung Timnas Indonesia.

P_20170826_200043.jpg

P_20170826_183336.jpg

P_20170826_182404.jpg

MENJADI GURU ADALAH PILIHAN

Standar

Lumrahnya seorang anak laki-laki usia 6 hingga 15 tahun selalu bermimpi untuk menjadi seorang pesepak bola. Indeed, to be a football player is more than a dream. Menjadi Ronaldo atau Messi adalah mimpi terbesar mereka. Sepakbola bukan hanya sekadar menendang bola atau memburu kemenangan. Sepakbola adalah popularitas. Seperti halnya di Brazil atau Argentina, sepak bola adalah agama. Atau paling tidak menjadi Irfan Bachdim atau Evan Dimas saja sudah lebih dari cukup. Football is a goal.

Saya pun pernah berada di fase itu. Saat mengisi biodata di mana pun itu dan jika ada kolom cita-cita, di sana hanya akan tertera satu mimpi besar saya “pemain sepakbola”. Pun ketika ditanya oleh orang-orang dewasa. Mau jadi apa kalau besar nanti? Dengan mantap dan suara yang begitu meyakinkan saya akan menyebut pemain sepakbola.

Andry Shevchenko adalah pemain sepakbola yang memaksa saya ketika SD untuk bercita-cita menjadi pesepak bola. Di era saya itu, Cristiano Ronaldo atau Messi mungkin masih sibuk bermain di academy sepak bola Sporting Lisbon dan La Massia di Barcelona. Bukan Ronaldo Brazil, Rivaldo, atau pemain sekaliber David Beckham yang membuat saya terpesona. Andry Shevchenko, pemain asal Ukraina yang bermain di Dynamo Kiev kemudian hijrah ke AC Milan yang membuat saya jatuh cinta pada permainan si kulit bundar. Pemain yang tak punya skill special namun berdaya insting bak peluru di depan gawang lawan. Transisi dari tahun 1999 ke 2000 adalah fase di mana kehidupan saya banyak diisi oleh Shevchenko, AC Milan dan Liga Italia.

Namun menjadi pesepak bola hanyalah sebatas angan-angan bagi anak kecil yang untuk bisa punya sepatubola saja harus menunggu berbulan-bulan sebab orangtua saya yang lebih memprioritaskan urusan sekolah  daripada sekadar membeli sepatu bola yang harganya setara dengan harga sepatu sekolah plus tas sekolah. Impian untuk menjadi sepakbola benar-benar saya kubur tatkala masuk di bangku SMA. Menjadi seorang polisi atau guru jauh lebih realistis dan lebih possible untuk saya wujudkan.

Saat kelas 3 SMA, satu-satunya mimpi lain dan lebih mendapatkan support moril dari orangtua saya adalah menjadi seorang anggota polisi, tentu saja karena ini lebih realistis daripada to be a football player.

Di bangku kelas 3 saya langsung fokus pada dua hal; mempersiapkan untuk menghadapi UN dan pendaftaran bintara polisi pasca UN. Semuanya berjalan bersamaan dan tidak ada kendala. Saat pagi dan sore saya lebih memporsir tenaga untuk latihan fisik seperti lari, push up, pull up dan semacamnya. Sementara saat malam saya lebih intens untuk belajar. Pasca UN pun saya sempat berguru persiapan test pada tetangga saya yang memang berprofesi sebagai polisi. 4 kali dalam seminggu saya berkunjung ke rumahnya untuk belajar psiko test dan test akademik. Semua hal tentang seluk beluk tes kepolisian dia bocorkan. Termasuk doa-doa yang sering dia panjatkan saat pernah berada di posisi saya dulu. Namun sayang, usaha dan hasil akhir tidak seperti yang saya harapkan.

Kemudian saya memutuskan menjadi seorang mahasiswa di jurusan keguruan. I thought that was more possible for my life. Sesuatu hal yang sangat jauh dari harapan saya di awal-awal kuliah. Ambisi menjadi polisi tetap membara saat menjalani kehidupan seorang mahasiswa. Selama kuliah, mungkin hingga semester 5, saya mendaftar polisi lagi sebanyak 2 kali dan sekali di angkatan laut. Dan semua berakhir dengan kegagalan. All that things didn’t make me down. Saya sadar memang jalan hidup saya ada di dunia pendidikan. Di akhir semester lima saya pun memutuskan untuk mulai menerima kenyataan bahwa masa depan saya adalah to be a teacher. Polisi atau Tentara hanyalah mimpi-mimpi kegagalan saya.

Hari ini saya menjalani mimpi saya, cita-cita saya, yang saya bangun pondasinya di semester 5 ketika kuliah dulu. Menjadi seorang guru. Meski kenyataannya di mata orang-orang di luar sana  menjadi guru bukanlah profesi menuju mapan. Profesi guru hanya membawa kita aman, pun itu dengan syarat sebagai guru PNS. Namun jika benar-benar telah menjalaninya, materi hanyalah pasangan dari pekerjaan. Mengajar dan mendidik adalah panggilan hati ketika telah menyatu pada profesi guru. Semua akan dijalani penuh rasa ikhlas.

Sumber gambar: penerbit mitra edukasi.wordpress.com

 

 

 

 

GENG RAPA-RAPA IS ON THE FEKESYEN

Standar

Mustahil jika bepergian berhari-hari, berpindah-pindah tempat, rame-rame pula tanpa menghasilkan masalah. Meski masalah sering muncul di setiap kota yang kami singgahi. Selalu saja kami anggap itu sebagai ujian kebersamaan. Semua dilewati dengan bakucalla dan saling menertawai, bukannya saling tuding menjadi biang kerok bikin rusuh keadaan.

Saat jatah libur tersisa seminggu lagi Geng Rapa-Rapa (baca: SILN UNM Tahap 7) yang berjumlahkan 9 orang mengadakan fekesen keliling Jogja. Sebagai kaum penganut setia istilah bekerja-kerja dahulu, berlibur-libur kemudian benar-benar memanfaatkan waktu sebijak mungkin mengunjungi beberapa destinasi hits di sekitaran wilayah Jogja. Maklum mimpi untuk berkuliah di kota pelajar itu tak pernah kesampaian, namun paling tidak pernah ke sana sekali seumur hidup saja sudah cukup. Mau umroh duitnya belum cukup. Apa lagi untuk nikah.

Saya sebagai rekan yang menjadi personil terakhir bergabung di rombongan Geng Rapa-Rapa. Saya minus sehari bergabung dengan yang lainnya. 5 hari sebelum ke-8 teman-teman lain ke Jogja, saya sudah terlebih dahulu melakukan trip ke Surabaya-Malang-Solo-Semarang-Magelang. Kemudian saya bergabung dengan lainnya di hari ke-6 saya berada di pulau Jawa.

Pelancong kali ini terdiri atas 3 perempuan;

  1. Enjel: paling sering belanja, paling banyak koneksina di Jogja, paling suka minta difoto, tidak bisa angkat koper, terlalu banyak berpikir dan solusi-solusinya tidak memecahkan masalah, jago bikin caption di IG (terutama yang bikin baper odo’-odo’ na).
  2. Sukma: korban PHP, suka minta difoto (di satu spot bisa sampai 12 jepretan), bendahara Geng Rapa-Rapa, jago cerita dengan supir taksi onlen, suka makan, tidak kuat angkat koper, banyak sekali belanjana (ada koper, ada rinjani, ada tas-tas kecil na 2 biji), suka curhat colongan, punya teman baru dari Semarang.
  3. Pika: bergelar hajja (sudahmi tawwa umroh), peloporna Iphong di Geng Rapa-Rapa, bawa kulkas (baca: koper) 1 pintu, cita-cita mau jalang-jalang ke Bandung, jarang berpikir tapi solusinya terkadang memberi jalan keluar, yang punya Kundasang setengah, kalau habis masa bakti SILN katanya mau kuliah S2 (kalau bukan di Malang, kemungkinan di Korea Utara ambil jurusan Perkebunan)

Dan sebagai pelengkap adalah the magnificent six:

  1. Aksar: Ketua Geng, Iphong na suka lobet (jadi kalau ada moment bagus tidak bisa dipake), sold out (hampirmi juga menikah), “sembarangji saya, mengikutja” (kalimat andalanna), yang penting rame (kiblat prinsipna), suka pidio kolan sama mama na Rinso, selalu memanas-manasi tentang pernikahan.
  2. Arsyam: fashionable, paling kekinian di antara laki-laki lainnya, Syahrini versi laki-laki, sudah pede selfie-selfie karena pakai iphong, “Ok” (apapun saran yang masuk, jawabannya dua huruf).
  3. Arsyad: Orang Maros yang sebentar lagi mau jadi orang Bantaeng, lain dari pada yang lain pilihannya jatuh pada Vivo, apapun keadaannya selalu pakai celana kain (sekalipun itu nge-gym), selalu ikut suara terbanyak,
  4. Ahsar: Aksar, Arsyam, Arsyad, dan kali ini Ahsar. Terkadang banyak yang bingung membedakan mana nama yang tepat dengan orangnya masing-masing. Ahsar (a.k.a Kevin, a.k.a Pak Ment –merujuk pada menteri agama), salah satu iphoners, ponsel na selalu menjadi korban untuk mengabadikan momen, di hapenya jauh lebih banyak gambar orang lain daripada mukanya sendiri, suka pake pantofel (apapun momentnya), suka pake kemeja lengan panjang dan kacamata hitam, belum beristri, tidak merokok, tidak makan sabun, suka makan nasi, kalau tidur matanya tertutup, kalau angkat telepon selalu bilang “halo” sebagai pembuka.
  5. Syamsir: skill menikungnya di bawah rata-rata, lebih sering ditikung, banyak odo’-odo na, klimis, lelaki yang tidak natural (editan) karena pake pomed (lelaki sejati tidak pake pomed), akrab dengan admin Traveloka, penyedia layanan beli tiket pesawat, asisten pribadinya Sukma, paling kassa’ dengar curhatan, cita-cita ingin menikah di atas 30 tahun dan sebelum 40 tahun, mau kembali sama masa lalunya tapi malu-malu mengajak balikan duluan.
  6. Rahmat Suardi: Hokage Konoha yang ke-12, Duta Pariwisata Bulukumba (2050-2055), pernah mencoba menjadi orang Semarang tapi jatuh ditikungan.

Jogja menjadi saksi bisa betapa rapa-rapanya dan rempongya fekesyen kali ini. Bagaimana tidak, mengusun misi trip backpacker, eh malah bawa koper sebesar kulkas dan jinjingan berbiji-biji. Tapi itu semua tidak mengurangi nikmatnya liburan dengan ongkos hasil kerja sendiri dan menderita selama berbulan-bulan di ladang sawit.

Kalibiru, Rumah Batik, Malioboro, Borobudur, hingga wisata hutan pinus di Bantul semua didatangi. Demi apa? demi kepuasan menikmati hasil keringat sendiri dan foto-foto yang instagramable. Maka nikmat foto mana yang kau dustakan?

Tak hanya Jogja sebagai lahan menghamburkan kebersamaan. Jakarta menjadi destinasi lain, meski bisa dikatakan itu adalah kali terakhir kami memilih Jakarta sebagai destinasi libur. Sebabnya tentu saja karena waktu jauh lebih terkuras di jalanan daripada menikmatinya di tempat wisata.

Hanya 2 hari di Jakarta dengan kegiatan-kegiatan yang hanya didominasi oleh keluhan tentang kemacetan. Kami bergeser lagi ke Kuala Lumpur sebagai destinasi terakhir sebelum kembali ke tempat tugas masing-masing.

Paling tidak Kuala Lumpur jauh lebih bersahabat daripada jalanan Jakarta. Liburan usai, duit habis, saatnya kembali ke kandang masing-masing untuk mendidik anak bangsa yang hidup di ladang-ladang sawit.

IMG-20170714-WA0017.jpg

Iphong 9 1/2+

IMG-20170717-WA0019.jpg

At Bantimurung

IMG-20170717-WA0083.jpg

At Malino

IMG-20170717-WA0092.jpg

TKI Penombak Sawit

IMG-20170715-WA0018.jpg

Siap-siap untuk dideportasi

 

SOLO, BUKAN SOLO-WESI SELATAN

Standar

Di tahun 2007, di awal-awal masa kuliah, untuk naik pete-pete (angkot) saja saya sudah luar biasa paniknya. Takut salah tujuan, takut salah ambil pete-pete, takut dihipnotis, takut diculik sama sopir pete-pete. Ketakutan itu saya pelihara bertahun-tahun. Sehingga setiap akan ke tempat-tempat baru saya selalu berpikir 1000 kali. Saya tidak mau terus-terusan berada di zona itu. Saya harus keluar. Saya hanya takut pada diri sendiri sebenarnya. Ancaman-ancaman dari luar hanyalah rekayasa ketakutan saya sendiri. Sebab itu saat sekarang ini saya sudah sedikit berani ke mana-mana, ke tempat-tempat baru sendirian. Karena saya tahu di sana saya tidak akan menemui kesulitan berarti. Tuhan selalu ada kok. Penolong yang maha dahsyat.

Matahari telah mekar saat bus tengah menyelusuri daerah Sragen. Sekitar 1 jam lagi  saya akan tiba di Kota Solo. Kota asing yang hanya sekadar saya tahu pernah di suatu masa Bapak Jokowi menjadi Walikota-nya.

Tanpa teman dan hanya bermodalkan secuil keberanian saya menyambangi Kota Solo. Sebelumnya, di Surabaya dan Malang saya mempunyai teman yang selalu menjadi penuntun setia agar saya tidak salah arah. Mereka memudahkan saya untuk mengunjungi spot-spot wisata yang berada di kedua kota tersebut. Tapi lain halnya dengan Solo. Semua saya lakukan dengan mandiri. Referensi dari bertanya pada google dan teman yang pernah berkunjung ke Solo. Selebihnya saya mengandalkan aplikasi gojek.

Pukul 08.00 saya tiba di terminal Tirnonadi. Seperti halnya di bandara Juanda, ternyata moda transportasi online tidak bisa mengambil penumpang dari terminal Tirnonadi. Beberapa tukang ojek konvensional berjaga-jaga di sekitaran terminal untuk memantau jika ada pengojek online yang berani menaik turunkan penumpang. Saya rasa itu cukup berasalan, lahan rezeki, meski sebenarnya sudah ada yang mengatur, pengojek konvensional agak sedikit terganggu. Sebab ojek online jauh lebih mudah menemukan penumpang. Sementara penumpang jauh lebih nyaman menggunakan ojek online. Layanan tarif yang diberikan ojek online jauh lebih transparan dan murah.

Tak ada pilihan lain, akhirnya saya menggunakan ojek konvensional yang pangkalannya berada di depan terminal. Ini yang saya tidak suka, harga yang diberikan oleh tukang ojeknya dua kali lipat daripada yang tertera pada aplikasi gojek. Tapi saya tidak punya alternatif lain. Saya tetap menggunakan jasanya.

Sepanjang jalan saya diajak bicara dengan bahasa Jawa yang tidak saya pahami. Saya hanya menjawab iya,iya,iya saja. Sepertinya itu sudah cukup melayani bahasa bicaranya.

Sampai di tujuan, Kraton Kasuanan Surakarta, saya memindahtangankan selembar uang 20 ribu rupiah.

“Maaf Mas, saya tidak bisa bahasa Jawa. Saya orang Makassar.” Itu membuatnya tertawa kecil dan meminta maaf.

Di kraton saya tidak bisa mengeksplore terlalu maksimal. Sehari sebelumnya saya menghabiskan waktu seharian menelusuri beberapa tempat hits di Malang. Tanpa istrahat saya harus naik bus lagi dari jam 10 malam dan baru selesai pukul 8 pagi. Kepala saya terasa berat. Karena lebih mementingkan kesehatan saya memutuskan untuk mencari penginapan. Padahal rencananya saya tak berniat untuk menginap di Solo. Sore, saat setelah seharian berkeliling kota Solo, saya ingin melanjutkan perjalanan ke Jogja dan menginap di sana.

Saya memilih hotel madu asri yang berada di jalan Achmad Yani. Meski hotel, tarifnya cukup murah untuk backpacker kere macam saya. Harga perharinya tak sampai 100 ribu. Meski fasilitas yang saya dapatkan tak terlalu special juga. Intinya bisa dipakai untuk beristrahat.

Sore hari selepas ashar barulah saya kembali on fire. Saya kembali ke daerah Kraton dan menyelesaikan yang tidak sempat saya selesaikan tadi pagi. Tak jauh dari arah Kraton saya menyambangi Pasar Klewer dan Wisata Kuliner Galabo.

Saat malam saya ingin bergeser ke daerah Ngarsopuro Night Market, tapi sayang sekali ternyata tutup.

WhatsApp Image 2017-07-09 at 22.25.07kl.jpeg

WhatsApp Image 2017-07-09 at 22.25.06.jpeg

WhatsApp Image 2017-07-09 at 22.25.07.jpeg